Monday, April 09, 2018

My Amazing Pregnancy-2

Now, the baby's age comes to 21 weeks. It means that I am reaching the middle of the second trimester as well as of my pregnancy. The terror of nausea has been passed smoothly. I mean, I didn't face any trouble causes something to the baby, except the fact that, there is still no weight gain. I was 56 kgs before the the stick told me that I carry a baby. 55 kgs in the second month, 54 in third to forth months. The previous doctor was almost mad and assumed that the cause of this weight decrease was my laziness to pick any food for my baby. She said that I shouldn't be selfish to my baby.

Some of my friends also told me that I should eat more than before and I should learn to give my baby what it needs.I desperately told them that I've been trying to eat more than before and that I never touch junk food or any other unhealthy food ever since I was told to be pregnant. But to my surprise they seemed already believed that I am a lazy mommy-to-be who doesn't try enough to overcome the nausea and doesn't care with my baby's growth. Unfortunately, the doctor and my hubby sometimes think so.

On a not-quite-busy Friday I managed to to get permission to go home earlier from my office so that I can see the doctor (other doctor) accompanied by my husband who has taken a leave from his office . I told my boss and he, without any hesitation granted me his signature.

The doctor started to put his focus on monitor. He said that the head of the baby is now positioned in the bottom, the hands and feet are normal, the heart is normal as well as every other parts of body. I asked him the weight and length, but he told me to be patient because he is currently analyzing something. My eyes were fixed on his expression, my heart seriously beat faster than ever. No.. I hope there is no something bad happens to my baby..no..

A wide smile appears on the doctor's face.. "bird..", surprised, only one word came out from my mouth "a boy?".."yes.." said the doctor happily, "it's already clear". Alhamdulillah... I never think of a certain sex, I only wish that my baby is normal, physically, psychologically. Oh well, to be honest, when I am with my nephews I think that it will be cool if I have one, but, whenever I go to baby store, oh my god.. baby dresses are so cuteeee.... It was different with my husband. Once I asked his wish, he said that it doesn't matter whether it is a boy or girl, but he frankly expect a boy. We were out of the room and wait for the midwife's calling. My husband's face was weird. He smiled happily, it was not a smile, I think it was more like giggle. Giggling, he covered his face with my jacket. He was so happy to tell his sister, so we went to his sister's house. My sister in law and her husband were so happy as well, but they were very honest to say that actually they wished a girl, and our nephews also wished a girl. hahha..


Whether a girl or a boy I hope he/she will be the light of our path to Jannah.. ammiiinnn...

Thursday, March 22, 2018

Paradigma "kalau tidak ngutang dan nyicil ya tidak punya"


Hari ini aku dapat pelajaran berharga,


Ini pelajaran hidup dari seorang teman yang hampir setiap bulan dengan berbagai alasan meminjam uang padaku, dari mulai 200 ribu, 700 ribu, sejuta, atau bahkan lebih dari itu. Tadinya aku berpikir sebab dia meminjam dan aku memberi pinjaman adalah dia sudah memiliki anak, sedangkan aku belum, atau dia staff 1 dan suaminyapun tak jauh beda dengannya sedangkan aku specialist job ditambah aku dan suami sama-sama double job. Secara income tentu jumlah kami lebih besar. 


Beberapa bulan yang lalu aku tercengang ketika mendengar ceritanya yang katanya ambil pinjaman Bank seniali 30 juta untuk membeli mobil bekas untuk keperluan bepergian dengan keluarganya. Perlahan aku mulai paham, karena pada saat hamil begini aku juga sering berangan-angan andaikan kita punya mobil tentu aku bisa istirahat di mobil saat perjalanan pulang mengajar malam. Tapi membayangkan punya mobil dalam kondisi sekarang dengan tabungan tak seberapa, sedangkan kami masih kost dan kami sedang mempersiapkan anak pertama kami, rasanya kok egois sekali hidup kami. Apalagi suami kerja di Jakarta, membayangkan macetnya saja sudah mumet, belum lagi perawatan mobil yang tidak mungkin murah. Oke, mungkin bagi temanku ini mobil sudah menjadi kebutuhan primer yang haram kalau tidak dipenuhi. Tapi pinjam uang ke Bank hanya untuk beli mobil? Ah sudahlah…


Setelah cerita itu berlalu temanku ini tetap meminjam uang padaku hampir setiap bulan. Alasannya? Dari mulai pinjam buat adiknya yang terlilit hutang, Ibu mertua sakit, anak sakit, dan berbagai macam alasan lainnya dan aku paling tidak sanggup menolak alasan-alasan semacam ini. Tapi beberapa hari kemudian postingan jalan-jalan, liburan keluar kotanya bersliweran di medsos dan status whatsApp. Ah sudahlah..


Hari ini aku baru tahu kalau ada program pinjaman Bank yang diakomodir perusahaan dan ternyata sudah berlangsung selama beberapa minggu. Meja kerjaku yang hanya berjarak 2 meter dari coordinator pinjaman Bank ini saja sungguh baru tahu beberapa jam yang lalu ketika tanpa sengaja aku mendengar percakapan temanku ini yang sedang sibuk mengurus formulir, ini itu dan sebagainya. Dengan polos aku bertanya, “Kamu minjem Bank lagi?”, “Iya mba” jawabnya, “Berapa?, Untuk apa?” aku benar-benar penasaran, “buat beli mobil mba, buat grab”, kamu ambil berapa? “60 mba”, cicilannya berapa? “2 juta sebulan”. Insting matematikaku seketika bekerja, Gajinya setahuku maksimal 3,8 – 2= 1,8? Selain melanggar aturan tentang besaran pemotongan gaji untuk pinjaman, rasanya sungguh tidak masuk akal menyisakan gaji 1,8 demi membeli mobil. Baiklah, ada gaji suaminya yang rasanya bisa ditaksir sekitar 4 atu 4,5, jadi total pemasukan 6,3, seingatku dia pernah bercerita kalau dia masih menanggung Ibunya yang tinggal di kontrakan. Sebulannya dia membantu Ibunya sekitar 600 ribu, untuk mertuanya 1 jt (karena mertuanya yang mengurus anaknya dan ia tinggal dirumah mertua), untuk kebutuhan susu dan pampers hampir 2 jt, sisanya 2,7, untuk jatah suaminya 1 jt , untuk kebutuhan lainya apalagi dana tak terduga? 1,7? Ah Sudahlah…


Menurutnya, dia masih sedikit lebih wajar dibandingkan si Ayu yang suaminya masih ada tanggungan 30 jt waktu pinjam buat mereka menikah (sekarang anaknya udah usia 3 tahun), dan tanggunganya sendiri 20 jt, sekarang sedang mengurus pinjaman lagi 120 jt. What?. Adalagi si Kiky yang baru menikah beberapa bulan sedang mengurus pinjaman 160 jt. Speechless. 
Aku bertanya lugu "kok kalian berani banget ya?"
"Ya kalau ga ngutang sama nyicil ga bakal punya mba"


Aku bersyukur saja, aku belum punya rumah, apalagi mobil, tabungan pun tak seberapa. Tapi Alhamdulillah, masih bisa membatu saudara dan teman-teman ketika mereka kesusahan. Meskipun kadang sungguh miris, ketika saudara meminjam untuk membangun rumah karena takut uang tabungannya terkuras habis, padahal uang yang kami pinjamkan adalah uang hasil menguras tabungan kami. Atau ada saja teman yang meminjam uang dengan membeberkan tanggungannya dan membandingkan dengan kami yang katanya baru menikah, anak belum lahir, suami kerja di bengkel besar sambil mengajar pula, istri kerja di perusahaan besar pun sambil mengajar. Mereka tidak tahu, kami pun punya mimpi, kami pun menahan nafsu kami ingin memiliki ini itu dan lainnya, kami pun masih belum tahu seberapa besar kebutuhan kami setelah anak kami lahir beberapa bulan kedepan.


Yang pasti kami berusaha sebaik mungkin agar tidak menyusahkan siapa pun. Kami berusaha semaksimal mungkin menghindari pinjaman, riba, dan sebagainya. Kami memimpikan banyak hal, tapi kami tahu kami akan lebih bahagia jika kami bisa tidur nyenyak tanpa beban tanggungan hutang. Yang pasti, kami masih bisa hidup, bisa makan, bisa cek kesehatan bayi pertama kami. 


Rasanya semenjak menikah, mataku lebih terjaga. Aku tidak terlalu tertarik dengan fashion, gadget, apalagi make up. Sepertinya terahir kami berbelanja baju ya lebaran kemarin. Gadget? Kami masih setia pada gadget kami yang kami beli saat awal masuk S2, 3 tahun lalu ketika gadget sebelumnya rusak dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Make up? Dari jaman aku kuliah, aku hanya pakai Pond’s pembersih wajah, Pond’s night cream, bedak refill Pixy, lipstic Sophie Martin, dan parfum refill Lovely yang aku pakai berdua dengan suamiku. Orang-orang sering meledekku, Dosen kok motornya vixion butut, dosen kok HP nya murahan, dosen kok ini itu… haha.. aku tetap bahagia… Bos Preskomku sering tiba-tiba memberiku kejutan cash entah untuk apa saja tanpa aku meminta dengan syarat tidak boleh ada yang tahu karena dia senang orang berfikir dia pelit. Kolega-kolega bosku yang sering dikenalkan padaku pun sering memberiku bingkisan, bahkan beberapa menjanjikanku bonus karena aku sering membantu peerjaan mereka. Meski gajiku tak besar tapi Alhamdulillah… banyak rejeki yang aku dapat.. Semoga kami tetap istiqomah untuk tidak tegoda dengan segala bentuk pinjaman dan riba. Semoga kami bisa melawan paradigma "kalau tidak ngutang dan nyicil ya tidak akan punya" Aammiiinn…

Tuesday, January 16, 2018

Push Yourself Beyond Your Limits

I was asked to make an article to be broadcasted in my office. I made it in two hours because the idea was already on my mind. I thought my article was good enough, and the broadcaster thought so. Unfortunately, the PIC gave no comment and no answer. I wrote it on 29th of December, but it hasn't broadcasted until now. I swore to myself to post it on my blog if there is no response, and here we go...

Push Yourself Beyond Your Limits

“Ah… tugas ini berat sekali”
“Ah… mana mungkin aku sanggup”
Seringkali terbersit pikiran-pikiran semacam itu dikepala kita ketika kita mendapatkan kesulitan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan.
Dalam hal pengetahuan.
Pernahkah kita merasa kesulitan mencerna isi buku ketika kita membacanya? Bisa jadi, sebagian dari kita menjawab”iya” (termasuk saya, red-) lalu berhenti membacanya dan kita tidak mendapatkan apa-apa dari buku tersebut. Bagaimana kalau kita tetap memaksakan diri untuk membacanya dan bersusah payah mencerna isinya? Kemungkinan besar kita akan memahami isinya dan pengetahuan yang ada didalamnya. Bukankan you are what you read ? Jadi kita bisa mengukur pengetahuan kita dari apa yang kita baca. Boleh saja kita membaca majalah gossip, atau buku-buku kumpulan cerpen, tapi akan lebih baik kalau kita mulai menambah referensi membaca kita agar asupan pengetahuan yang masuk ke kepala kita semakin melimpah.
Dalam hal pekerjaan.
Ketika kita diminta untuk mengerjakan pekerjaan yang belum pernah kita kerjakan sebelumnya, seringkali kita (mungkin cuma saya, red-) mengeluh dan merasa bahwa pekerjaan itu terlalu berat untuk kita, lalu menolak. Sesungguhnya penolakan ini adalah pemicu dari keterbatasan kemampuan kita. Jika kita berusaha memahami pekerjaan ini dan mencari tahu bagaimana cara menyelesaikannya, maka kemampuan kita akan ter-upgrade dengan sendirinya. Semakin sering kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang impossible (dan positif) untuk kita, semakin bertambahlah kapasitas dan kualitas kita dalam hal perkerjaan.
Belajar dari The Minions

Bagi Sport Lovers atau Badminton Lovers pasti tau siapa “The Minions”. The minions adalah nickname untuk pasangan ganda putra Indonesia yang saat ini menduduki peringkat 1 Dunia. Mereka adalah Kevin Sanjaya Sukamuldjo dan Marcus Fernaldi Gideon. Dengan tinggi badan 170 cm dan 167 cm sebagai atlet badminton, mereka tergolong “mini”, ditambah aksi-aksi mereka yang atraktif di lapangan dan sering menbuat fans mereka “jantungan” dan akhirnya bangga dengan kesuksesan mereka menaiki podium dibeberapa turnamen menjadikan julukan “The Minions” sangat pas untuk mereka. Apa yang membuat mereka berhasil?
Bagi Kevin (22 tahun) yang menurut ibunya adalah anak bungsu yang tadinya manja, tekad menjadi atlet badminton sudah sangat bulat sejak ia masih anak-anak. Meskipun gagal masuk PB Djarum ketika ia berusia 11 tahun, ia tetap bersikeras untuk mencoba lagi ketika ia berusia 12 tahun dan berhasil. Bakatnya ditambah keuletanya mengantarkanya ke pelatnas Cipayung. Bagi pelatih-pelatihnya ia adalah anak yang pantang menyerah untuk menempa skill nya, selalu meminta menambah porsi latihan dan baginya kekalahaan adalah hal yang sangat menyakitkan. Konon, pelatihnya pernah melihatnya menangis dipojok lapangan ketika ia pertama kali menelan kekalahan. Meski awalnya berhasrat untuk menjadi pemain tunggal tapi ia tetap menerima tantangan pelatih untuk mencoba sektor ganda. Keuletan dan bakatnya terbukti, meski baru dipasangkan dengan pemain senior Greysia Polii di ganda campuran mereka berhasil mengalahkan unggulan pertama Tiongkok dia BCA Indonesia Open 2014 dengan terlebih dahulu kalah di game pertama.
Marcus (26 tahun) bukan nama baru di ganda putra Indonesia. Sempat meninggalkan pelatnas karena kecewa tidak diikutsertakan dalam turnamen bergengsi All England, ia tetap berprestasi berpasangan dengan pemain senior Markis Kido. Pengalaman pahit diremehkan karena posturnya yang pendek dan dianggap tidak memiliki skill yang bagus sampai dia harus berlatih dengan tembok, tidak menyurutkan keinginannya untuk berprestasi. Kegigihanya yang membuatnya terus berprestasi meski diluar pelatnas  dan membuat salah satu pelatih di pelatnas memanggilnya kembali dan memasangkanya dengan Kevin yang sedang tidak memiliki pasangan.
Perjuangan mereka menjadi ganda putra nomor 1 dunia dan Male Player of the Year 2017 versi BWF tidaklah mudah. Di awal mereka dipasangkan di tahun 2015, permainan mereka masih mudah diatasi oleh lawan. Pemain unggulan Denmark (Mathias Boe/Carsten Mogensen) memanfaatkan kelemahan Kevin dengan menariknya ke baseline membuatnya harus jumping smash berkali kali yang akhirnya mati sendiri atau dengan membuat Marcus bermain di depan net dan membuat kesalahan sendiri. Kini, strategi ini dapat mereka mentahkan. Markus yang tadinya diposisikan sebagai tukang gebuk dengan smash tajamnya selalu menambah porsi latihanya untuk memperkaya skillnya didepan net. Bahkan, return service-nya pun kini dapat langsung mematikan lawan. Ia juga banyak mempelajari pukulan-pukulan ajaib Kevin. Kevinpun demikian, ia dengan gigih berlatih smash tajam ala Marcus. Ia bahkan kini mampu mematikan lawan dari baseline. Permainan mereka kini semakin solid. Terbukti mereka selalu menyemangati satu sama lain ketika dilapangan dan mereka selalu bertekad apabila dipertandingan saat ini mereka kalah maka dipertandingan berikutnya mereka harus menang. Tikungan-tikungan tajam skor dalam beberapa game, memaksa rubber game meski fisik sudah lelah, mengganti-ganti strategi untuk mengatasi lawan ketika mereka mengalami cidera membuktikan bahwa mereka memiliki fighting spirit yang luar biasa. 7 gelar juara super series dari 9 final dan 11 turnamen yang diikuti dari total 13 turnamen super series yang digelar dalam 1 tahun kalender adalah rekor dunia baru yang mereka ciptakan.
The Minions, terlepas dari kontroversi gaya bermain mereka yang sering dibilang suka memprovokasi lawan, mereka adalah anak-anak muda yang gigih dan ulet menempa diri mereka, memperkaya skill mereka, dan memperkuat mental mereka. Postur tubuh tak pernah menghalangi mereka untuk berprestasi. Karena mereka selalu push themselves beyond their limits.

How to train ourselves to push ourselves beyond our limits.
Menurut seorang Leadership Coach, Derek Lauber, ada beberapa cara untuk melatih diri kita untuk Push Ourselves beyond Our Limits:
·      Create the goal
Tentukan gol kita. Menurut Lauber ini akan membantu kita meberi energy ekstra secara mental untuk mendorong kita berusaha lebih keras lagi.
·      Push in short bursts
Menurut Lauber, kita juga perlu mentolelir diri kita sendiri. Ketika kita sudah menentukan gol kita dan sudang menentukan kapan harus selesai, tapi kita menemui jalan buntu. Kita bisa berhenti sejenak sambil mencari jalan keluar.  Lalu buat target waktu lagi dan selesaikan sebaik mungkin. However, don’t make too much excuse for yourself. Membuat terlalu banyak excuse untuk diri kita sendiri juga tidak baik.
·      Challenge yourself to take one more step
Ketika kita merasa kita sudah berada di batas kemampuan kita, ketika kita merasa kita sudah kepayahan dan menemui jalan buntu, cobalah untuk mencoba lagi, melangkah lagi sampai kita melangkah sedikit lebih jauh.
·      Learn to play with pain
Cobalah untuk menikmati kelelahan-kelelahan kita dalam mengerjakan sesuatu, suatu ketika nanti kita dapat dengan bangga menceritakannya ke anak cucu kita. Dan kelalahan-kelelahan inilah yang menempa kita untuk berada di level yang lebih tinggi.

Well, mulai sekarang anda bisa memulai dengan membuat gol anda dalam pekerjaan, pendidikan, atau kehidupan, trust me, it works. demikianlah great people, stay positive and push yourself beyond your limits.

Never set limits, go after your dreams, don't be afraid to push the boundaries. And laugh a lot - it's good for you!
-Paula Radcliffe-

References:
https://en.wikipedia.org/wiki/Kevin_Sanjaya_Sukamuljo retrieved on December 29th, 2017 (09.18 a.m);
https://en.wikipedia.org/wiki/Marcus_Fernaldi_Gideon retrieved on December 29th, 2017 (09.10 a.m);