Showing posts with label CORETANKU. Show all posts
Showing posts with label CORETANKU. Show all posts

Monday, April 09, 2018

My Amazing Pregnancy-2

Now, the baby's age comes to 21 weeks. It means that I am reaching the middle of the second trimester as well as of my pregnancy. The terror of nausea has been passed smoothly. I mean, I didn't face any trouble causes something to the baby, except the fact that, there is still no weight gain. I was 56 kgs before the the stick told me that I carry a baby. 55 kgs in the second month, 54 in third to forth months. The previous doctor was almost mad and assumed that the cause of this weight decrease was my laziness to pick any food for my baby. She said that I shouldn't be selfish to my baby.

Some of my friends also told me that I should eat more than before and I should learn to give my baby what it needs.I desperately told them that I've been trying to eat more than before and that I never touch junk food or any other unhealthy food ever since I was told to be pregnant. But to my surprise they seemed already believed that I am a lazy mommy-to-be who doesn't try enough to overcome the nausea and doesn't care with my baby's growth. Unfortunately, the doctor and my hubby sometimes think so.

On a not-quite-busy Friday I managed to to get permission to go home earlier from my office so that I can see the doctor (other doctor) accompanied by my husband who has taken a leave from his office . I told my boss and he, without any hesitation granted me his signature.

The doctor started to put his focus on monitor. He said that the head of the baby is now positioned in the bottom, the hands and feet are normal, the heart is normal as well as every other parts of body. I asked him the weight and length, but he told me to be patient because he is currently analyzing something. My eyes were fixed on his expression, my heart seriously beat faster than ever. No.. I hope there is no something bad happens to my baby..no..

A wide smile appears on the doctor's face.. "bird..", surprised, only one word came out from my mouth "a boy?".."yes.." said the doctor happily, "it's already clear". Alhamdulillah... I never think of a certain sex, I only wish that my baby is normal, physically, psychologically. Oh well, to be honest, when I am with my nephews I think that it will be cool if I have one, but, whenever I go to baby store, oh my god.. baby dresses are so cuteeee.... It was different with my husband. Once I asked his wish, he said that it doesn't matter whether it is a boy or girl, but he frankly expect a boy. We were out of the room and wait for the midwife's calling. My husband's face was weird. He smiled happily, it was not a smile, I think it was more like giggle. Giggling, he covered his face with my jacket. He was so happy to tell his sister, so we went to his sister's house. My sister in law and her husband were so happy as well, but they were very honest to say that actually they wished a girl, and our nephews also wished a girl. hahha..


Whether a girl or a boy I hope he/she will be the light of our path to Jannah.. ammiiinnn...

Tuesday, January 16, 2018

Push Yourself Beyond Your Limits

I was asked to make an article to be broadcasted in my office. I made it in two hours because the idea was already on my mind. I thought my article was good enough, and the broadcaster thought so. Unfortunately, the PIC gave no comment and no answer. I wrote it on 29th of December, but it hasn't broadcasted until now. I swore to myself to post it on my blog if there is no response, and here we go...

Push Yourself Beyond Your Limits

“Ah… tugas ini berat sekali”
“Ah… mana mungkin aku sanggup”
Seringkali terbersit pikiran-pikiran semacam itu dikepala kita ketika kita mendapatkan kesulitan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan.
Dalam hal pengetahuan.
Pernahkah kita merasa kesulitan mencerna isi buku ketika kita membacanya? Bisa jadi, sebagian dari kita menjawab”iya” (termasuk saya, red-) lalu berhenti membacanya dan kita tidak mendapatkan apa-apa dari buku tersebut. Bagaimana kalau kita tetap memaksakan diri untuk membacanya dan bersusah payah mencerna isinya? Kemungkinan besar kita akan memahami isinya dan pengetahuan yang ada didalamnya. Bukankan you are what you read ? Jadi kita bisa mengukur pengetahuan kita dari apa yang kita baca. Boleh saja kita membaca majalah gossip, atau buku-buku kumpulan cerpen, tapi akan lebih baik kalau kita mulai menambah referensi membaca kita agar asupan pengetahuan yang masuk ke kepala kita semakin melimpah.
Dalam hal pekerjaan.
Ketika kita diminta untuk mengerjakan pekerjaan yang belum pernah kita kerjakan sebelumnya, seringkali kita (mungkin cuma saya, red-) mengeluh dan merasa bahwa pekerjaan itu terlalu berat untuk kita, lalu menolak. Sesungguhnya penolakan ini adalah pemicu dari keterbatasan kemampuan kita. Jika kita berusaha memahami pekerjaan ini dan mencari tahu bagaimana cara menyelesaikannya, maka kemampuan kita akan ter-upgrade dengan sendirinya. Semakin sering kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang impossible (dan positif) untuk kita, semakin bertambahlah kapasitas dan kualitas kita dalam hal perkerjaan.
Belajar dari The Minions

Bagi Sport Lovers atau Badminton Lovers pasti tau siapa “The Minions”. The minions adalah nickname untuk pasangan ganda putra Indonesia yang saat ini menduduki peringkat 1 Dunia. Mereka adalah Kevin Sanjaya Sukamuldjo dan Marcus Fernaldi Gideon. Dengan tinggi badan 170 cm dan 167 cm sebagai atlet badminton, mereka tergolong “mini”, ditambah aksi-aksi mereka yang atraktif di lapangan dan sering menbuat fans mereka “jantungan” dan akhirnya bangga dengan kesuksesan mereka menaiki podium dibeberapa turnamen menjadikan julukan “The Minions” sangat pas untuk mereka. Apa yang membuat mereka berhasil?
Bagi Kevin (22 tahun) yang menurut ibunya adalah anak bungsu yang tadinya manja, tekad menjadi atlet badminton sudah sangat bulat sejak ia masih anak-anak. Meskipun gagal masuk PB Djarum ketika ia berusia 11 tahun, ia tetap bersikeras untuk mencoba lagi ketika ia berusia 12 tahun dan berhasil. Bakatnya ditambah keuletanya mengantarkanya ke pelatnas Cipayung. Bagi pelatih-pelatihnya ia adalah anak yang pantang menyerah untuk menempa skill nya, selalu meminta menambah porsi latihan dan baginya kekalahaan adalah hal yang sangat menyakitkan. Konon, pelatihnya pernah melihatnya menangis dipojok lapangan ketika ia pertama kali menelan kekalahan. Meski awalnya berhasrat untuk menjadi pemain tunggal tapi ia tetap menerima tantangan pelatih untuk mencoba sektor ganda. Keuletan dan bakatnya terbukti, meski baru dipasangkan dengan pemain senior Greysia Polii di ganda campuran mereka berhasil mengalahkan unggulan pertama Tiongkok dia BCA Indonesia Open 2014 dengan terlebih dahulu kalah di game pertama.
Marcus (26 tahun) bukan nama baru di ganda putra Indonesia. Sempat meninggalkan pelatnas karena kecewa tidak diikutsertakan dalam turnamen bergengsi All England, ia tetap berprestasi berpasangan dengan pemain senior Markis Kido. Pengalaman pahit diremehkan karena posturnya yang pendek dan dianggap tidak memiliki skill yang bagus sampai dia harus berlatih dengan tembok, tidak menyurutkan keinginannya untuk berprestasi. Kegigihanya yang membuatnya terus berprestasi meski diluar pelatnas  dan membuat salah satu pelatih di pelatnas memanggilnya kembali dan memasangkanya dengan Kevin yang sedang tidak memiliki pasangan.
Perjuangan mereka menjadi ganda putra nomor 1 dunia dan Male Player of the Year 2017 versi BWF tidaklah mudah. Di awal mereka dipasangkan di tahun 2015, permainan mereka masih mudah diatasi oleh lawan. Pemain unggulan Denmark (Mathias Boe/Carsten Mogensen) memanfaatkan kelemahan Kevin dengan menariknya ke baseline membuatnya harus jumping smash berkali kali yang akhirnya mati sendiri atau dengan membuat Marcus bermain di depan net dan membuat kesalahan sendiri. Kini, strategi ini dapat mereka mentahkan. Markus yang tadinya diposisikan sebagai tukang gebuk dengan smash tajamnya selalu menambah porsi latihanya untuk memperkaya skillnya didepan net. Bahkan, return service-nya pun kini dapat langsung mematikan lawan. Ia juga banyak mempelajari pukulan-pukulan ajaib Kevin. Kevinpun demikian, ia dengan gigih berlatih smash tajam ala Marcus. Ia bahkan kini mampu mematikan lawan dari baseline. Permainan mereka kini semakin solid. Terbukti mereka selalu menyemangati satu sama lain ketika dilapangan dan mereka selalu bertekad apabila dipertandingan saat ini mereka kalah maka dipertandingan berikutnya mereka harus menang. Tikungan-tikungan tajam skor dalam beberapa game, memaksa rubber game meski fisik sudah lelah, mengganti-ganti strategi untuk mengatasi lawan ketika mereka mengalami cidera membuktikan bahwa mereka memiliki fighting spirit yang luar biasa. 7 gelar juara super series dari 9 final dan 11 turnamen yang diikuti dari total 13 turnamen super series yang digelar dalam 1 tahun kalender adalah rekor dunia baru yang mereka ciptakan.
The Minions, terlepas dari kontroversi gaya bermain mereka yang sering dibilang suka memprovokasi lawan, mereka adalah anak-anak muda yang gigih dan ulet menempa diri mereka, memperkaya skill mereka, dan memperkuat mental mereka. Postur tubuh tak pernah menghalangi mereka untuk berprestasi. Karena mereka selalu push themselves beyond their limits.

How to train ourselves to push ourselves beyond our limits.
Menurut seorang Leadership Coach, Derek Lauber, ada beberapa cara untuk melatih diri kita untuk Push Ourselves beyond Our Limits:
·      Create the goal
Tentukan gol kita. Menurut Lauber ini akan membantu kita meberi energy ekstra secara mental untuk mendorong kita berusaha lebih keras lagi.
·      Push in short bursts
Menurut Lauber, kita juga perlu mentolelir diri kita sendiri. Ketika kita sudah menentukan gol kita dan sudang menentukan kapan harus selesai, tapi kita menemui jalan buntu. Kita bisa berhenti sejenak sambil mencari jalan keluar.  Lalu buat target waktu lagi dan selesaikan sebaik mungkin. However, don’t make too much excuse for yourself. Membuat terlalu banyak excuse untuk diri kita sendiri juga tidak baik.
·      Challenge yourself to take one more step
Ketika kita merasa kita sudah berada di batas kemampuan kita, ketika kita merasa kita sudah kepayahan dan menemui jalan buntu, cobalah untuk mencoba lagi, melangkah lagi sampai kita melangkah sedikit lebih jauh.
·      Learn to play with pain
Cobalah untuk menikmati kelelahan-kelelahan kita dalam mengerjakan sesuatu, suatu ketika nanti kita dapat dengan bangga menceritakannya ke anak cucu kita. Dan kelalahan-kelelahan inilah yang menempa kita untuk berada di level yang lebih tinggi.

Well, mulai sekarang anda bisa memulai dengan membuat gol anda dalam pekerjaan, pendidikan, atau kehidupan, trust me, it works. demikianlah great people, stay positive and push yourself beyond your limits.

Never set limits, go after your dreams, don't be afraid to push the boundaries. And laugh a lot - it's good for you!
-Paula Radcliffe-

References:
https://en.wikipedia.org/wiki/Kevin_Sanjaya_Sukamuljo retrieved on December 29th, 2017 (09.18 a.m);
https://en.wikipedia.org/wiki/Marcus_Fernaldi_Gideon retrieved on December 29th, 2017 (09.10 a.m);

Monday, January 15, 2018

My Amazing Pregnancy

On a fine Sunday in the third week of the last month in 2017, I woke up too early. It might have been 02.00 a.m or 03.00 I didn’t bother myself to check my phone because I knew my clock wasn’t set well. I stayed awake and thought of many things. I planned to take some water and get wudhu before praying. It was only a plan for a while because I suddenly got a brilliant yet usual and monthly idea. The fear of getting disappointed because I’ve been doing this monthly ever since I am married always appeared like this. I tried to be realistic because when I was on my fertile window, my husband and I got a very bad influenza and we didn’t try as much as other months before. I reached my phone and checked the time, it was 02.44 a.m. I still had time to just lay on my bad while looking at my husband who had deeply fallen asleep since may be three hours ago.
I opened some apps on my phone and came to flo, an app which has been installed since my period didn’t come as regularly as usual five months ago. I read the notification that told me to wish again… it was seven days late. Should I take the test? No.. I possibly need to wait for some days later. I’ve experienced it on previous month, I was told to be late for five days but it brought no result because the ‘red’ came right after I woke up early morning on the sixth day. I closed the app desperately and put my phone back. An idea to take a test still bothered me. It won’t hurt me though, I thought. Yeah… whatever the result won’t hurt me. If it’s negative I just need to try again next month, or may be next 2,3,4,5,6,7,… months. If it’s positive…. Ah I don’t need to think too far, I reminded myself. O.. my heart, please stay strong for whatever the result.

I did it. I took the stick and dipped it into a familiar container. It just needed a blink to make my mouth widely opened. It was not the same stick with several sticks that I have been getting bored of. It was not the disappointing results that have been making me tired. It was not only unbelievable, It was an AMAZING GIFT! Two stripes! Two eagerly-awaited stripes!!!! I was hardly able to believe it! The stripes were amazingly too clear, too bright, and too obvious!!! I'm gonna be a mother of a whether-beautiful-or-handsome kid! I got a good news for my parents & my parents in law!

Now, I reach the 10 weeks of my pregnancy and it is so lovely. My husband has been taking care of me well and better during these 2 months. He serves me like a grandma! He does the laundry, he serves my meal, he does the cleaning and everything. I never asked him to do so, but the stuffs seemed to be really enjoyable for him. I think our love is growing even stronger now.

Baby, you should be a proud child… You’ll be born and taken care by a super-man dad!

Saturday, February 27, 2016

Miscellaneous

February nearly reaches its end. My college final examination was done ages ago, but the other final examination seems to come slow-motion-ly. I look forward to have a complete holiday, with only some new movies or new books and him along day, though I may only find that on Sunday, when I am free of factory-labor-job. I expect the holiday will truly come next Sunday, after correcting my students’ examination of course. That would be pretty nice I think, a holiday in rainy session. The blanket would be comfortably warm, just like last night. Yeah, the thunderstorms were so ghastly last night, the rain was so heavy, the bed was so smooth, what a perfect night!

It’s been so long time since the last time I wrote in this diary. Ummm.. 2 months? Well, now I am hardly able to sum up all things happened during 2 months. My legal jobs were running well, as well as my stomach in these 2 days,  My post-graduate study was as good as my cooking, my teaching activities were.. how can I say.. alright, as alright as my motorbike. I don’t really know why though, I was dead trying to look as wise as other lecturers, and I failed. So I did other way to act like (the real) lecturer : being old woman – and I failed for the second time. Finally, weeks ago I just realize that for now I just need to be myself and treat them just as my friends. I don’t need to be respected, for I only want to share what I know and try myself to find the best way to share – because I can’t share anything else perhaps. The other difficulty I found during this very first semester was the way of being blended with senior lecturers -_-. Anyhow, it didn’t make me down whenever I only focused on my purpose : teaching sharing.

I am surprised that there are 3 more semesters ahead to achieve my MPd and I am looking forward to strike a blow for the next journey, PhD may be? *Amiin*


I am feeling so ambitious… doing more, giving more. 


Monday, August 10, 2015

Every Cloud Has a Silver Lining

I'am really.. really surprised and speechless. This good chance is totally unexpected. Well, I wished but didn't really mean to expect it. The Dean called us two days after our graduation. After a long painstaking journey, we got finally the best answer : her invitation. She suggested us to register ourselves to one of the best universities in Indonesia to take Linguistics program. It was a second unexpected thing from her. A very long and boring discussion led us to a decision : we won't take it. There were so many unspeakable reasons. We didn't want to waste time, we got only a few choices, and we had decided.
25/07/2015

Bismillah... I remember clearly when a lecturer asked me about my desire, I told him, the only thing I want to be is being a good housewife. Now, I've found a way to make it better. I want to be a good wife and a good mother, someday. Being lecturer is merely a process. Now, my focus is to complete my postgraduate degree as soon as possible, obtaining 'nidn' as soon as I get the certificate. In at least a couple of years, (it is possible I'll have already married)  I do hope I can manage my time for lecturing and taking care of my children. hahahahaaa 
I'am looking forward to start the study. I've been missing those boring stuff! Making papers, doing assignments, researches, and of course thesis! 
Now I know for sure, we should be optimistic, even difficult times will lead us to better days. 
As a "moved on" pupil, I've already got a good plan, I'll try not to get too close to others except him to avoid injuries in this fragile heart.  That will do. 
25/07/2015
It's been almost 4 years and our journey will be more than decades or centuries. This is only a new doorway we have to open. ~Every Cloud Has a Silver Lining~

Wednesday, July 01, 2015

Magical Me : Witchcraft and Wizardry

The Beginning : Part I 

It was a week after Christmas holiday when a 12-year-old Gryffindor boy, Albus Severus Potter sat on the best armchair in Gryffindor common room. His eyes were fixed on a fireplace in front of him, but his brain swam wildly throughout the darkness outside.

The room was barely deserted before the fat lady's portrait swung open to reveal his brother, a 16-year-old James Sirius Potter with a handful food.

“Thinkin’ somethin’ mate?” James asked
“ No” Albus’s lips were still curled
“Alright, mm-bed” Yawning, James went upstairs

Albus knows exactly, his brother wouldn’t know what he is thinking about. He would tease him in front of his friends.

As a son of the most famous wizard in the world, the best Auror in a decade, the best Defense Against The Dark Arts teacher, Order Of Merlin, First Class, Harry Potter, and the best seeker of England Quidditch team, the most intelligent contributor of Daily Prophet, Ginevra Molly Potter (nee Weasley), he always thinks of people’s words about him.

He pulled a parchment and quill. He began


Dear Dad,

People keep asking me about you and mum. Reckon they want a photograph with signature of yours. Yesterday, I couldnt brew my potion again, they teased me and told me that possibly I am not your and mums son. Dad, can I move to Ravenclaw? I can befriend with Fred. Or Durmstrang? You are a friend of the headmaster, Mr. Krum. If youre not busy in the ministry please answer pronto.

Love
Albus
PS : Dont tell mum

If youre busy in the ministry, please answer pronto anyway.



#To be continued tomorrow, I am busy like hell with these documents -_- # 

Friday, June 26, 2015

A Question

“Are you alright?”
“Excellent”
“Can I have a quick word with you?”
“Yes, quick”
“No, not that quick”
“Okay as long as it is not in the form of question”
“I think it is a question”
“So you won’t have it”
“Why?”
“Because I really hate questions”
“Don’t be ridiculous, I will only ask a question, and you will of course answer it, won’t you?
“I’ve told you, I won’t”
“It’s really a simple question, why don’t you just give me a simple answer then?
“I won’t answer a single simple question”
“Really, why?”
“I don’t like answering”
“So, why did you answer those questions? I’ve just questioned you already.
“Oh, Shut up”


I don’t know how I stand for that long. I am getting used to be all alone and afar. I haven’t prepared a proper answer to their question. I think I prefer taking TOEFL than answering their annual horrific question. Couple weeks ago I believed in a few seconds the holiday would be pretty nice. At least I can make them sure enough to stop worrying my answer. Besides, I thought the chance of answering their or neighbor’s question would be less painful. Tonight, however a horrible news came to my ears as a wild arrow. The idea of coming to my own home alone makes me wondering if I just go abroad for war instead. The worst idea is about leaving from my home again and alone again. How can I explain to them? How can they explain to them? For a split second I think I just need to turn my phone off, but it doesn’t seem good at all, my sister will tell her husband to fetch me, and she will give me a long boring speech about what I have done. My mother will of course ask her what happens to me, and I will need to answer their questions again. Now I realize, that simple question has been taunting and torturing me. That simple question is a cause of those sleepless dream and dreamy sleep. That simple question is apparently the reason of tearing for every moment of my broken heart. That simple question is obviously about you.
Today I can’t remember how to show my teeth. My boss keeps asking me about the progress of my work. It sounds even more painful than my own singing. Everybody looks like trolls in my eyes. I don’t have any idea what to talk to them. Preparing renewal contract, contacting vendors, making the quotations, are less enjoyable than sitting above the closed closet.
I’ve always been thinking about this and I’ve never been able to manage my pounding heart whenever I faced this. Do I need to go as far as I can away and never look back even though just to make sure everyone is alright, to make sure you are alright?
How to start then? Talking to you? I have done it. Begging you? I have done it. Shutting myself? Must be a good solution.







How soon is that soon?

Second?
Minute?
Hour?
Day?
Week?
Month?
Year?
Years?
Years?

I can think nothing about thing for something such an indecisive thing. I am drowning into an indefinite valley ever since I decided to take an extreme journey of uncertainty. I’ve given my life with a word as a payment : soon. I’ve been avoiding their messages, phones, and chats. They look like a lifetime terror. What is that soon for? How soon is that soon?

I love being the object of their solicitudes, very nice of them. Does every woman ever happen to this impasse? 



Thursday, May 21, 2015

Emansipasi Wanita dan Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana

copas : http://fantasyworldastia.blogspot.com/2012/10/sinopsis-novel-layar-terkembang-karya.html

Tuti dan Maria adalah kakak beradik, anak dari Raden Wiriatmadja mantan Wedana daerah Banten. Sementara itu ibu mereka telah meninggal. Meskipun mereka adik-kakak, mereka memiliki watak yang sangat berbeda. Tuti si sulung adalah seorang gadis yang pendiam, tegap, kukuh pendiriannya, jarang sekali memuji, dan aktif dalam organisasi-organisasi wanita. Sementara Maria adalah gadis yang periang, lincah, dan mudah kagum.
            Diceritakan pada hari Minggu Tuti dan Maria pergi ke akuarium di pasar ikan. Di tempat itu mereka bertemu dengan seorang pemuda yang tinggi badannya dan berkulit bersih, berpakaian putih berdasi kupu-kupu, dan memakai kopiah beledu hitam. Mereka bertemu ketika hendak mengambil sepeda dan meninggalkan pasar, pada saat itu pula mereka berbincang-bincang dan berkenalan. Nama pemuda itu adalah Yusuf, dia adalah seorang mahasiswa sekolah tinggi kedokteran. Sementara Maria adalah murid H.B.S Corpentier Alting Stichting dan Tuti adalah seorang guru di sekolah H.I.S Arjuna di Petojo. Mereka berbincang samapai di depan rumah Tuti dan Maria.
            Yusuf adalah putra dari Demang Munaf di Matapura, Sumatra Selatan. Semenjak pertemuan itu Yusuf selalu terbayang-bayang kedua gadis yang ia temui di akuarium., terutama Maria. Yusuf telah jatuh cinta kepada Maria sejak pertama kali bertemu, bahkan dia berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya. Tidak disangka oleh Yusuf, keesokan harinya dia bertemu lagi di depan hotel Des Indes. Semenjak pertemuan  keduanya itu, Yusuf mulai sering menjemput Maria untuk berangkat sekolah serta dia juga sudah mulai berani berkunjung ke rumah Maria. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak bukan lagi hubungan persahabatan biasa.
            Tuti sendiri terus disibukan oleh kegiatan-kegiatan nya dalam kongres Putri Sedar yang diadakan di Jakarta, dia sempat berpidato yang isinya membicarakan tentang emansipasi wanita. Tuti dikenal sebagai seorang pendekar yang pandai meimilih kata, dapat membuat setiap orang yang mendengarnya tertarik dan terhanyut.
            Sesudah ujian doctoral pertama dan kedua berturut-turut selesai, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura, Sumatra Selatan. Selama  berlibur Yusuf dan Maria saling mengirim surat, dalam surat tersebut Maria mengatakan kalau dia dan Tuti telah pindah ke Bandung. Kegiatan surat menyurat tersebut membuat Yusuf semakin merindukan Maria. Sehingga pada akhirnya Yusuf memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta dan ke Bandung untuk mengunjungi Maria. Kedatangan Yusuf disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Setelah itu Yusuf mengajak Maria berjalan-jalan ke air terjun Dago, tetapi Tuti tidak dapat meninggalkan kesibukannya. Di tempat itu Yusuf menyatakan perasaan cintanya kepada Maria.
            “Maria, Maria, tahukah engkau saya cinta kepadamu?”
            “Lama benar engkau menyuruh saya menanti katamu…”
            Setelah kejadian itu, kelakuan Maria berubah. Percakapannya selalu tentang Yusuf saja, ingatannya sering tidak menentu, dan sering melamun. Sehingga Rukamah sering mengganggunya. Sementara hari-hari Maria penuh kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banya membaca buku. Sebenarnya pikiran Tuti terganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Melihat kemesraan Maria dan Yusuf, Tuti pun ingin mengalaminya. Tetapi Tuti juga memiliki ke khawatiran terhadap hubungan Maria dan Yusuf. Kemudian Tuti menasehati Maria agar jangan sampai diperbudak oleh cinta. Nasihat tulus Tuti justru memicu pertengkaran diantara mereka dan memberikan pukulan keras terhadap Tuti.
            “Engkau rupanya tiada dapat diajak berbicara lagi,”kata Tuti amarah pula, mendengar jawaban adiknya yang tidak mengindahkan nasihatnya, “Sejak engkau cinta kepada Yusuf, rupanya otakmu sudah hilang sama sekali. Engkau tidak dapat menimbang buruk-baiknya lagi. Sudahlah! Apa gunanya memberi nasihat orang serupa ini?”
            “Biarlah saya katamu tidak berotak lagi. Saya cinta kepadanya, ia cinta kepada saya. Saya percaya kepadanya dan saya hendak menyerahkan seluruh nasib saya ditangannya, biarlah bagaimana dibuatnya. Demikian kata hati saya. Saya tidak meminta dan tida perlu nasihatmu. Cinta engkau barangkali cinta perdagangan, baik dan buruk ditimbang sampai semiligram, tidak hendak rugi barang sedikit. Patutlah pertunanganmu dengan Hambali dahulu putus!”
            “Tutup mulutmu yang lancing itu, nanti saya remas.”
            Dari kejadian itu, Tuti sama sekali tidak berbicara dengan Maria, juga dia merasa sendiri dan sepi dalam kehidupannya.
            Ketika Maria mendadak terkena penyakit malaria dan TBC, Tuti pun kembali memperhatikan Maria, Tuti menjaganya dengan sabar. Pada saat itu juga adik Supomo datang atas perintah Supomo untuk meminta jawaban pernyataan cintanya kepada Tuti. Sebenarnya Tuti sudah ingin memiliki seorang kekasih, tetapi Supomo dipandangnya bukan pria idaman yang diinginkan Tuti. Maka dengan segera Tuti menulis surat penolakan.
            Sementara itu, keadaan Maria semakin hari makin bertambah parah. Kemudian ayahnya, Tuti, dan Yusuf memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Dokter yang merawatnya menyarankanagar Maria dibawa ke rumah sakit khusus penderita penyakit TBC wanita di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan, yang terjadi adalah kondisi Maria semakin lemah.
            Pada suatu kesempatan, Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan. Tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
            Semakin hari hubungan Yusuf dan tuti semakin akrab, sementara itu kondisi kesehatan Maria justru semakin mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Pada saat kritis Maria mengatakan sesuatu sebelum ia menginggal.
            “Badan saya tidak kuat lagi, entah apa sebabnya. Tak lama lagi saya hidup di dunia ini. Lain-lain rasanya… alangkah berbahagia saya rasanya di akhirat nanti, kalau saya tahu, kalau kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain.”Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria.
            Setelah beberapa lama kemudian, sesuai dengan pesan terakhir Maria, Yusuf dan Tuti menikah dan bahagia selama-lamanya.
TAMAT

Meski belum pernah membaca novelnya, judul novel ini sudah tak asing lagi sejak masih belajar pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dulu. Layar Terkembang menjadi salah satu novel yang sering dijadikan pembahasan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dilihat dari sinopsis diatas, alur cerita Layar Terkembang sebenarnya sederhana. Namun demikian, pelajaran yang dapat diambil sungguh luar biasa. Sosok Tuti yang digambarkan sebagai perempuan berpendidikan tinggi, aktifis di berbagai organisasi, dan sebagai simbol emansipasi wanita pada masa itu di masyarakatnya rupanya menganggap adiknya Maria yang sedang jatuh cinta sebagai perempuan yang kehilangan akal sehatnya. Pandanganya pada apa yang dirasakan Maria ini menyulutkan perpecahan diantara keduanya. Pandangan Tuti soal 'jatuh cinta' mulai berubah ketika adiknya sakit parah dan di akhir hayatnya berpesan agar Tuti hidup berbahagia dengan orang yang Maria cintai. Tuti sadar, sebagai perempuan ia memerlukan pria sebagai teman hidupnya, sebagai imam dan pengayomnya. Setinggi apapun pendidikan perempuan, ia harus ingat bahwa kehidupan baru lahir dari rahimnya yang berarti tanggung jawabnyalah merawat, mengasuh, serta mendidik manusia-manusia baru di bumi ini. Berpendidikan tinggi adalah anugrah, membimbing anak-anak menjadi orang-orang besar yang soleh adalah anugrah yang lebih besar.


Wednesday, May 20, 2015

Pelangi Retak

Langitpun tak selalu cerah
Ada kalanya manusia merindukan hujan yang basah
Hujanpun tak selamanya membuat gelisah
Satu waktu ia merengkuh kembali hati - hati yang patah



Dalam hidup selalu ada yang datang dan pergi. Ada yang singgah sebentar, ada pula yang segera pergi setelah sekian lama menyimpan duri, beberapa diantaranya tetap bertahan. Aku tak mengharapkan hubungan pertemanan yang sempurna, bahkan aku, rena, lilis dan ncus yang sudah bersama-sama sejak balita pun masih saja belum sepenuhnya klop. Ditambah jarak dan kesibukan yang membuat komunikasi kami kian menjarang.

Tapi hidup selalu penuh dengan pelajaran. Satu pelajaran yang membuatku kesulitan bukan kepalang adalah pelajaran tentang introspeksi diri. Masalah bertubi-tubi nyatanya hanya membuatku mahir mengeluh, bukan berbenah diri. Tapi ada yang lebih sulit dari pelajaran ini, yaitu soal ikhlas. Beberapa menit yang lalu aku memutuskan akan mengikhlaskan ujian-ujian itu datang, tapi beberapa menit kemudian bermacam macam argumentasi yang bercokol di benaku mulai menggoyahkan keikhlasanku yang tadi. Dan begitu seterusnya.


Aku menyayangkan kehadiranmu dalam dunia teman bertemanku akan hanya sebentar saja. Aku kira aku sudah tahu hitam putihmu begitupun sebaliknya, ternyata tidak. Aku begitu hitam dimatamu. Tapi sudahlah, apa gunanya menerangi gedung gelap dengan sebatang lilin. Berbahagialah saja dengan duniamu, meski yang kau ingat hanya selalu keburukanku, dan keburukan-keburukan teman-teman yang kau jauhi sebelum aku. Karena akupun berbahagia dengan duniaku, tanpa lupa untuk mengenang kebaikanmu. Aku bahkan sudah kebal dengan kata-kata busukmu. Karena aku bersama orang-orang yang mengingatkanku untuk dekat dengan-Nya. Karena pada akhirnya semuanya kuserahkan pada-Nya. Termasuk hatimu. Berbahagialah, dan mendekatlah kepada-Nya, semoga ada sinar yang mampu menerangi hatimu segera, lusa atau kelak dimasa mendatang. Semoga kita sama-sama dijauhkan dari sifat Ananiah, Ghadab, Hasad, Ghibah dan Namimah.