Wednesday, July 01, 2015

Magical Me : Witchcraft and Wizardry

The Beginning : Part I 

It was a week after Christmas holiday when a 12-year-old Gryffindor boy, Albus Severus Potter sat on the best armchair in Gryffindor common room. His eyes were fixed on a fireplace in front of him, but his brain swam wildly throughout the darkness outside.

The room was barely deserted before the fat lady's portrait swung open to reveal his brother, a 16-year-old James Sirius Potter with a handful food.

“Thinkin’ somethin’ mate?” James asked
“ No” Albus’s lips were still curled
“Alright, mm-bed” Yawning, James went upstairs

Albus knows exactly, his brother wouldn’t know what he is thinking about. He would tease him in front of his friends.

As a son of the most famous wizard in the world, the best Auror in a decade, the best Defense Against The Dark Arts teacher, Order Of Merlin, First Class, Harry Potter, and the best seeker of England Quidditch team, the most intelligent contributor of Daily Prophet, Ginevra Molly Potter (nee Weasley), he always thinks of people’s words about him.

He pulled a parchment and quill. He began


Dear Dad,

People keep asking me about you and mum. Reckon they want a photograph with signature of yours. Yesterday, I couldnt brew my potion again, they teased me and told me that possibly I am not your and mums son. Dad, can I move to Ravenclaw? I can befriend with Fred. Or Durmstrang? You are a friend of the headmaster, Mr. Krum. If youre not busy in the ministry please answer pronto.

Love
Albus
PS : Dont tell mum

If youre busy in the ministry, please answer pronto anyway.



#To be continued tomorrow, I am busy like hell with these documents -_- # 

Friday, June 26, 2015

A Question

“Are you alright?”
“Excellent”
“Can I have a quick word with you?”
“Yes, quick”
“No, not that quick”
“Okay as long as it is not in the form of question”
“I think it is a question”
“So you won’t have it”
“Why?”
“Because I really hate questions”
“Don’t be ridiculous, I will only ask a question, and you will of course answer it, won’t you?
“I’ve told you, I won’t”
“It’s really a simple question, why don’t you just give me a simple answer then?
“I won’t answer a single simple question”
“Really, why?”
“I don’t like answering”
“So, why did you answer those questions? I’ve just questioned you already.
“Oh, Shut up”


I don’t know how I stand for that long. I am getting used to be all alone and afar. I haven’t prepared a proper answer to their question. I think I prefer taking TOEFL than answering their annual horrific question. Couple weeks ago I believed in a few seconds the holiday would be pretty nice. At least I can make them sure enough to stop worrying my answer. Besides, I thought the chance of answering their or neighbor’s question would be less painful. Tonight, however a horrible news came to my ears as a wild arrow. The idea of coming to my own home alone makes me wondering if I just go abroad for war instead. The worst idea is about leaving from my home again and alone again. How can I explain to them? How can they explain to them? For a split second I think I just need to turn my phone off, but it doesn’t seem good at all, my sister will tell her husband to fetch me, and she will give me a long boring speech about what I have done. My mother will of course ask her what happens to me, and I will need to answer their questions again. Now I realize, that simple question has been taunting and torturing me. That simple question is a cause of those sleepless dream and dreamy sleep. That simple question is apparently the reason of tearing for every moment of my broken heart. That simple question is obviously about you.
Today I can’t remember how to show my teeth. My boss keeps asking me about the progress of my work. It sounds even more painful than my own singing. Everybody looks like trolls in my eyes. I don’t have any idea what to talk to them. Preparing renewal contract, contacting vendors, making the quotations, are less enjoyable than sitting above the closed closet.
I’ve always been thinking about this and I’ve never been able to manage my pounding heart whenever I faced this. Do I need to go as far as I can away and never look back even though just to make sure everyone is alright, to make sure you are alright?
How to start then? Talking to you? I have done it. Begging you? I have done it. Shutting myself? Must be a good solution.







How soon is that soon?

Second?
Minute?
Hour?
Day?
Week?
Month?
Year?
Years?
Years?

I can think nothing about thing for something such an indecisive thing. I am drowning into an indefinite valley ever since I decided to take an extreme journey of uncertainty. I’ve given my life with a word as a payment : soon. I’ve been avoiding their messages, phones, and chats. They look like a lifetime terror. What is that soon for? How soon is that soon?

I love being the object of their solicitudes, very nice of them. Does every woman ever happen to this impasse? 



Thursday, May 21, 2015

Emansipasi Wanita dan Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana

copas : http://fantasyworldastia.blogspot.com/2012/10/sinopsis-novel-layar-terkembang-karya.html

Tuti dan Maria adalah kakak beradik, anak dari Raden Wiriatmadja mantan Wedana daerah Banten. Sementara itu ibu mereka telah meninggal. Meskipun mereka adik-kakak, mereka memiliki watak yang sangat berbeda. Tuti si sulung adalah seorang gadis yang pendiam, tegap, kukuh pendiriannya, jarang sekali memuji, dan aktif dalam organisasi-organisasi wanita. Sementara Maria adalah gadis yang periang, lincah, dan mudah kagum.
            Diceritakan pada hari Minggu Tuti dan Maria pergi ke akuarium di pasar ikan. Di tempat itu mereka bertemu dengan seorang pemuda yang tinggi badannya dan berkulit bersih, berpakaian putih berdasi kupu-kupu, dan memakai kopiah beledu hitam. Mereka bertemu ketika hendak mengambil sepeda dan meninggalkan pasar, pada saat itu pula mereka berbincang-bincang dan berkenalan. Nama pemuda itu adalah Yusuf, dia adalah seorang mahasiswa sekolah tinggi kedokteran. Sementara Maria adalah murid H.B.S Corpentier Alting Stichting dan Tuti adalah seorang guru di sekolah H.I.S Arjuna di Petojo. Mereka berbincang samapai di depan rumah Tuti dan Maria.
            Yusuf adalah putra dari Demang Munaf di Matapura, Sumatra Selatan. Semenjak pertemuan itu Yusuf selalu terbayang-bayang kedua gadis yang ia temui di akuarium., terutama Maria. Yusuf telah jatuh cinta kepada Maria sejak pertama kali bertemu, bahkan dia berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya. Tidak disangka oleh Yusuf, keesokan harinya dia bertemu lagi di depan hotel Des Indes. Semenjak pertemuan  keduanya itu, Yusuf mulai sering menjemput Maria untuk berangkat sekolah serta dia juga sudah mulai berani berkunjung ke rumah Maria. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak bukan lagi hubungan persahabatan biasa.
            Tuti sendiri terus disibukan oleh kegiatan-kegiatan nya dalam kongres Putri Sedar yang diadakan di Jakarta, dia sempat berpidato yang isinya membicarakan tentang emansipasi wanita. Tuti dikenal sebagai seorang pendekar yang pandai meimilih kata, dapat membuat setiap orang yang mendengarnya tertarik dan terhanyut.
            Sesudah ujian doctoral pertama dan kedua berturut-turut selesai, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura, Sumatra Selatan. Selama  berlibur Yusuf dan Maria saling mengirim surat, dalam surat tersebut Maria mengatakan kalau dia dan Tuti telah pindah ke Bandung. Kegiatan surat menyurat tersebut membuat Yusuf semakin merindukan Maria. Sehingga pada akhirnya Yusuf memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta dan ke Bandung untuk mengunjungi Maria. Kedatangan Yusuf disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Setelah itu Yusuf mengajak Maria berjalan-jalan ke air terjun Dago, tetapi Tuti tidak dapat meninggalkan kesibukannya. Di tempat itu Yusuf menyatakan perasaan cintanya kepada Maria.
            “Maria, Maria, tahukah engkau saya cinta kepadamu?”
            “Lama benar engkau menyuruh saya menanti katamu…”
            Setelah kejadian itu, kelakuan Maria berubah. Percakapannya selalu tentang Yusuf saja, ingatannya sering tidak menentu, dan sering melamun. Sehingga Rukamah sering mengganggunya. Sementara hari-hari Maria penuh kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banya membaca buku. Sebenarnya pikiran Tuti terganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Melihat kemesraan Maria dan Yusuf, Tuti pun ingin mengalaminya. Tetapi Tuti juga memiliki ke khawatiran terhadap hubungan Maria dan Yusuf. Kemudian Tuti menasehati Maria agar jangan sampai diperbudak oleh cinta. Nasihat tulus Tuti justru memicu pertengkaran diantara mereka dan memberikan pukulan keras terhadap Tuti.
            “Engkau rupanya tiada dapat diajak berbicara lagi,”kata Tuti amarah pula, mendengar jawaban adiknya yang tidak mengindahkan nasihatnya, “Sejak engkau cinta kepada Yusuf, rupanya otakmu sudah hilang sama sekali. Engkau tidak dapat menimbang buruk-baiknya lagi. Sudahlah! Apa gunanya memberi nasihat orang serupa ini?”
            “Biarlah saya katamu tidak berotak lagi. Saya cinta kepadanya, ia cinta kepada saya. Saya percaya kepadanya dan saya hendak menyerahkan seluruh nasib saya ditangannya, biarlah bagaimana dibuatnya. Demikian kata hati saya. Saya tidak meminta dan tida perlu nasihatmu. Cinta engkau barangkali cinta perdagangan, baik dan buruk ditimbang sampai semiligram, tidak hendak rugi barang sedikit. Patutlah pertunanganmu dengan Hambali dahulu putus!”
            “Tutup mulutmu yang lancing itu, nanti saya remas.”
            Dari kejadian itu, Tuti sama sekali tidak berbicara dengan Maria, juga dia merasa sendiri dan sepi dalam kehidupannya.
            Ketika Maria mendadak terkena penyakit malaria dan TBC, Tuti pun kembali memperhatikan Maria, Tuti menjaganya dengan sabar. Pada saat itu juga adik Supomo datang atas perintah Supomo untuk meminta jawaban pernyataan cintanya kepada Tuti. Sebenarnya Tuti sudah ingin memiliki seorang kekasih, tetapi Supomo dipandangnya bukan pria idaman yang diinginkan Tuti. Maka dengan segera Tuti menulis surat penolakan.
            Sementara itu, keadaan Maria semakin hari makin bertambah parah. Kemudian ayahnya, Tuti, dan Yusuf memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Dokter yang merawatnya menyarankanagar Maria dibawa ke rumah sakit khusus penderita penyakit TBC wanita di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan, yang terjadi adalah kondisi Maria semakin lemah.
            Pada suatu kesempatan, Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan. Tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
            Semakin hari hubungan Yusuf dan tuti semakin akrab, sementara itu kondisi kesehatan Maria justru semakin mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Pada saat kritis Maria mengatakan sesuatu sebelum ia menginggal.
            “Badan saya tidak kuat lagi, entah apa sebabnya. Tak lama lagi saya hidup di dunia ini. Lain-lain rasanya… alangkah berbahagia saya rasanya di akhirat nanti, kalau saya tahu, kalau kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain.”Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria.
            Setelah beberapa lama kemudian, sesuai dengan pesan terakhir Maria, Yusuf dan Tuti menikah dan bahagia selama-lamanya.
TAMAT

Meski belum pernah membaca novelnya, judul novel ini sudah tak asing lagi sejak masih belajar pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dulu. Layar Terkembang menjadi salah satu novel yang sering dijadikan pembahasan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dilihat dari sinopsis diatas, alur cerita Layar Terkembang sebenarnya sederhana. Namun demikian, pelajaran yang dapat diambil sungguh luar biasa. Sosok Tuti yang digambarkan sebagai perempuan berpendidikan tinggi, aktifis di berbagai organisasi, dan sebagai simbol emansipasi wanita pada masa itu di masyarakatnya rupanya menganggap adiknya Maria yang sedang jatuh cinta sebagai perempuan yang kehilangan akal sehatnya. Pandanganya pada apa yang dirasakan Maria ini menyulutkan perpecahan diantara keduanya. Pandangan Tuti soal 'jatuh cinta' mulai berubah ketika adiknya sakit parah dan di akhir hayatnya berpesan agar Tuti hidup berbahagia dengan orang yang Maria cintai. Tuti sadar, sebagai perempuan ia memerlukan pria sebagai teman hidupnya, sebagai imam dan pengayomnya. Setinggi apapun pendidikan perempuan, ia harus ingat bahwa kehidupan baru lahir dari rahimnya yang berarti tanggung jawabnyalah merawat, mengasuh, serta mendidik manusia-manusia baru di bumi ini. Berpendidikan tinggi adalah anugrah, membimbing anak-anak menjadi orang-orang besar yang soleh adalah anugrah yang lebih besar.