Senja dihari sabtu yang sendu, awan-awan murung yang berarak dalam nuansa kelabu. Lantunan lirih dari mushola memberi sedikit jernih untuk kami yang penuh pamrih.
Tangan kasar itu kini sudah kembali bersih, dari seharian memeras keringat membalut perih. Kebimbangan terterka dari raut wajahnya, seraya ia menimang-nimang dalam genggamanya.
Sekaleng kecil sarden baginya seumpama makanan-makanan resto yang keren. Otaknya berkutat dalam pikiran sederhana soal kapan sekaleng sarden ini akan dihidangkan untuk anak-anaknya. Mungkin nanti sore, tapi apalagi yang akan ia sajikan esok pagi?. Mungkin esok pagi akan lebih baik, anak-anaknya akan makan lahap sebelum mereka berjalan jauh ke sekolah. Ah tidak, besok mereka libur sekolah, belum terlalu penting untuk makan lahap, sebaiknya lusa saja. lalu apa yang kan mereka telan seharian besok? sedangkan hasil menjual keliling barang-barang kelontong hari ini sudah habis untuk membeli sekaleng sarden ini dan sebungkus sabun colek untuk mencuci sebulan, sebungkus kecil odol pun tak sanggup ia beli, sudah seminggu ini odol mereka habis, bungkusnyapun sudah menjadi lempengan yang licin tak berbekas odol.
Suara merdu itu menggema, ia bergegas ke sumur tanpa pagar milik tetangganya. Setelah mengambil air wudhlu dipanggilnya ketiga anak-anaknya yang masih usia sekolah dasar. Ditungguinya mereka ber wudhlu sambil mengingatkan agar wudhlunya sempurna. Tergopoh-gopoh mereka ke mushola berharap masih ada kesempatan ikut berjama'ah. Sang Ibu khusyuk dalam shalatnya, banyak doa yang ia panjatkan untuk anak-anaknya dan untuk suaminya si syurga. Air mukanya tenang, meski air matanya semakin menggenang. Ia bersyukur, berkali-kali ia ucapkan hamdallah karea hari ini ia mampu membelikan ketiga anaknya sekaleng sarden. Sudah seminggu si bungsu merengek-rengek memintanya, karea ia sering mendengan temanya bercerita tentang betapa nikmatnya sarden itu. Ia bersujud lalu duduk tenang mendengar ceramah ba'da magrib.
Sepulang dari mushola si bungsu hanya diam sepanjang jalan. Wajahnya murung. Ia menangis diam-diam. Sang ibu mendengarnya sesenggukan, dipeluknya penuh kasih sayang. Dengan lembut, meski ia takut si bungsu akan meminta yang tak sanggup ia beli, ia tetap bertanya , "kenapa sayang?". Ragu, dan penuh perasaan bersalah si bungsu menjawab "bu.. mukenaku sobek dan kumal, tadi siang praktik shalat disekolahan aku malu bu.. aku tak jadi masuk kelas dan bolos..". Tertegun, tanpa sadar ibu pun mendekapnya semakin erat. "Maafkan ibu nak...maafkan ibu.. maafkan ibu membuatmu malu...". Si sulung mendekat turut memeluk ibunya "Bu.. aku punya tabungan, maaf aku tak pernah bilang kalau aku mengamen setiap pulang sekolah, aku takut ibu marah, aku takut ibu malu.. tapi pakailah tabunganku bu untuk membeli mukena adik".
Kembali tertegun, dalam kekagetanya yang luar biasa, ia merasa semakin tak berdaya. Ia kembali menangis, kali ini lebih terguncang dari sebelumnya "maafkan ibu nak... maafkan ibu...tolong maafkan ibu..." kemuadian mereka berpelukan di jalan setapak yang becek, lagi kumuh dan bau. Semakin erat mereka mencurahkan kasih sayang mereka, tak peduli timbunan sampah di sekelilingnya.
Malam itu Ibu memutuskan untuk memasak sekaleng sarden untuk ketiga anaknya. Ia bahagia melihat anaknya makan dengan lahap. dalam kebahagiaanya, ia melamun, besok bagaimana mereka akan makan? sedangkan ia sudah tak boleh berjualan barang-barang kelontong oleh majikanya, karena jalanya yang sudah mulai lamban. Ia merogoh kantong dasternya yang sudah ia jahit sendiri berkali kali. Ada beberapa lembar uang duaribuan dari si sulung tadi untuk membeli mukena si bungsi. Ah.. haruskah kupakai uang ini untuk membeli seikat kangkung saja besok? Tapi bagaimana praktik shalat si bungsu. Lamunanya buyar tatkala ketiga anaknya tersenyum riang dan si bungsu berkata "bu, seandainya kita bisa makan sarden setiap hari bu...hehehee.. semoga ibu daganganya lancar"
Ibu tersenyum lemah... Ia memutuskan untuk tidur saja malam itu. Agar perutnya yang seharian tak terisi makanan tidak terlalu menuntutnya untuk mengisinya.. Ia tertidur.. dengan mimpinya membeli sekaleng sarden seperti tadi siang....
Lalu dimana kami harus berteduh?
Sedang kalian membangun rumah-rumah mahal menepikan kami yang kumuh
Lalu bagaimana kami mencari nafkah?
Sedang kami selalu dipinggirkan digantikan gedung gedung megah
Lalu apa yang kami makan?
Sedang harganya kian melambung tak terjangkau meski kami bekerja seharian
Lalu bagaimana kami hidup?
Sedang kalian membeli udara yang kami hirup
Negeri ini kau bangun hanya untuk konglomerat-konglomerat
Kami yang melarat kau biarkan sekarat
Bermula dari kisah beberapa hari yang lalu, aku membuang sekaleng besar sarden yang kubeli saat bulan puasa yang lalu. Aku sampai lupa aku masih menyimpanya. Meski tanggal kadaluarsa yang tertera di kalengnya April 2015, kuputuskan untuk ku buang saja karena sepertinya tak mungkin kumakan lagi. Esoknya ketika berangkat kerja tak sengaja aku mendengar percakapan sepasang ibu-anak berpakaian usang yang membicarakan soal keinginan anaknya makan sarden untuk berbuka puasa dihari senin itu, namun sang ibu menjanjikan untuk membelikanya hari sabtu. Sebuah pelajaran berharga, ibu-anak yang berkeinginan sederhana ini menamparku tanpa sengaja. Seringkali aku lalai dalam bersyukur... Astaghfirullah...
Thursday, January 22, 2015
Monday, December 29, 2014
How to be a happy crazy person? Writing, Smiling, and Laughing
I found the edge of my rage
I did nothing to calm it dowm
I saw them like villains
Please please release me
I don't want this hatred
I don't want to bring this into my grave
You came and begged my kindness
I gave you,
But am I good enough then?
If my heart burned already
Was that an apology?
I count it as an agony
Writing somehow heals your wound. If you feel nobody to talk to, just write. Write anything. As what my pal said. anggit. I didn't believe it at first, but I have proved it. It is nothing for me whether my writing is valuable or not. I am just trying, trying to help myself for being a monster. As a woman who prefers bad-mouthing to forgiving, i found myself distracted by this. I know I can't hate anyone for I can't be sure that I won't do such mistakes they have done. I desperately remind myself to be a light-hearted girl. I don't want to take anything into my rage, I can't let my best- man see my sadness anymore.
These papers may help you to get your confusions out of your head
Pragmatic : Reference & Inference
Analysis of Gaza Tonight Song Lyric
Poem Analysis
Political System and Government of America
The_Exploration_of_Binary_Opposition_by_Claude_Levi-Strauss_Deconstruction_by_Jacques_Derrida_Orientalism_by_Edward_Said_Political_Unconscious_by_Fredric_Jameson_Hegemony_by_Antonio_Gramsci
I did nothing to calm it dowm
I saw them like villains
Please please release me
I don't want this hatred
I don't want to bring this into my grave
You came and begged my kindness
I gave you,
But am I good enough then?
If my heart burned already
Was that an apology?
I count it as an agony
Writing somehow heals your wound. If you feel nobody to talk to, just write. Write anything. As what my pal said. anggit. I didn't believe it at first, but I have proved it. It is nothing for me whether my writing is valuable or not. I am just trying, trying to help myself for being a monster. As a woman who prefers bad-mouthing to forgiving, i found myself distracted by this. I know I can't hate anyone for I can't be sure that I won't do such mistakes they have done. I desperately remind myself to be a light-hearted girl. I don't want to take anything into my rage, I can't let my best- man see my sadness anymore.
These papers may help you to get your confusions out of your head
Pragmatic : Reference & Inference
Analysis of Gaza Tonight Song Lyric
Poem Analysis
Political System and Government of America
The_Exploration_of_Binary_Opposition_by_Claude_Levi-Strauss_Deconstruction_by_Jacques_Derrida_Orientalism_by_Edward_Said_Political_Unconscious_by_Fredric_Jameson_Hegemony_by_Antonio_Gramsci
Friday, December 05, 2014
Pals
yap. rumah kita berempat deketan. kita temenan dari SD. dulu kita bikin gank namanya TREL (Tutik, Rena, Encus (eh Eka), Lilis) trus ganti jadi VACC (Virgo, Aries, Cancer, Capricon) norak kan?hahha... kalo sekaranag mungkin kita golongan gank alay, atau cabecabean layu, suka bonceng 3 tapi bukanya pake hot pants, pakenya kolor kotak-kotak sejuta umat. Gank ini ga popular disekolah sama sekali, ga ada manfaatnya di masyarakat juga. Cuma ngalor ngidul abis pulang sekolah. maenan pasir, dir (gundu), orang-orangan pake kertas, cawuk (pake batu), dam-daman (pake genteng), uweng uwengan (pake karet), dan sejenisnya (NB: dulu belum pada pake kerudung). Beranjank SMP mainan kita lebih maju dan modern. Basket. Pulang sekolah ganti baju langsung jalan lagi ke sekolah padahal jaraknya lumayan jauh, ga peduli panas terik kayak apa pun sampe kulit kita hitam legam bahkan sering dipanggil sil*t dandang (sebut saja pantat panci). Kadang-kadang nantangin anak-anak cowok (adekelas), pake duit pula, dan kita menang lumayan dapet 5000 buat beli cilok. Lucunya biasanya kita sering demen sama cowo yang sama. Contohnya waktu SD, temenku bertiga ini suka sama satu cowo, aku sih no. hahah.. trus waktu SMP aku sama Rena pernah suka juga sama cowo yang sama. Tapi di ahir ceritanya si cowo malah nembak Lilis. Pokoknya biasanya kalo ada cowo yang deket sama kita ya muter-muter aja. Kita hampir tiap hari ketemu, bayangin aja berangkat sekolah bareng, sampe kita bosen, sampe saking penginya berangkat ga bareng di tengah jalan kita pisah, salah satu suruh jalan dulu, setelah jaraknya lumayan jauh baru satu lagi jalan, pulangnya tetep bareng lagi. Biasanya mampir beli mie ayam atau beli cireng. Pulang sekolah, selesai makan dan bantu ibu ala kadarnya kita main bareng lagi. Kalo udah mendekati sandekala kita pulang takut ada wewe, malemnya jangan ditanya, ngumpul lagi! entah sekedar ngrumpi atau sambil ngerjain PR.
Dari kiri :
Encus : Anak sulung dari kami berempat. Paling rapi dan perfeksionis. Bajunya paling licin, sepatunya paling bersih, rambutnya paling rapi, kamarnya pun paling rapi, dan paling rajin pake henbodi, hihhii.. Meskipun mukanya paling jutek, sebenernya kalo udah kenal ga jutek-jutek amat kok. Dari lulus SMK doi merantau ke Malaysia. Sempet pulang + setahun sekarang udah balik ke Malaysia. Yah semoga dia pulang membawa pangeran Kelantan..heheee.. Dulu kita berdua sering berantem, hal-hal sepele, entah karena cowo atau apa lah yang jelas ga mutu deh alesanya. :-D
Rena : Anak ketiga dari kami berempat. Dari postur tubuh tentu sudah bisa menunjukan kalau dia hidup paling makmur, berat badanya 2 x beratku (akunya juga terlalu kurus). Tapi jangan cuma ngomongin berat badan, otaknya juga encer. Dia paling jago ngomong enggres, Dulu ranking 1 biasanya dikelas. Meskipun ketawanya bisa bangunin orang koma, dia ini sosok yang menyenangkan. Care banget sama orang lain.Sejak sama-sama merantau ke Jekardah kita masih sering ketemu karena kost nya di Cinere, ga terlalu jauh dari Serpong.
Aku : Anak bungsu dari kami berempat, ga rapi, ga pinter-pinter amat dan biasa aja. udah gitu aja.
Lilis : Anak kedua tentunya. Pinter, saingan sama rena, ketua OSIS pas SMP dan SMA. Dia dulu paling sering gonta ganti pacar. sekarang sih udah insyaf. kalo udah ngobrol sama dia pasti kita akan otomatis tau kalau dia ambisius. Ambisiusnya positif kok. Buktinya berkat ambisiusnya ini dia berhasil dapet beasiswa S2 di ITB. Orangnya cerewet, tapi menyenangkan.
jadi intinya kenapa aku nulis tulisan tiada manfaat ini?? kangen aja sih sama masa-masa ingusan dilap pake lengan baju, masa masa, kalo lagi dapet nembus kemana-mana, masa-masa saling ngutang satu sama lain, dari 100 perak sampe puluh ribu.. kangen titik
Dari kiri :
Encus : Anak sulung dari kami berempat. Paling rapi dan perfeksionis. Bajunya paling licin, sepatunya paling bersih, rambutnya paling rapi, kamarnya pun paling rapi, dan paling rajin pake henbodi, hihhii.. Meskipun mukanya paling jutek, sebenernya kalo udah kenal ga jutek-jutek amat kok. Dari lulus SMK doi merantau ke Malaysia. Sempet pulang + setahun sekarang udah balik ke Malaysia. Yah semoga dia pulang membawa pangeran Kelantan..heheee.. Dulu kita berdua sering berantem, hal-hal sepele, entah karena cowo atau apa lah yang jelas ga mutu deh alesanya. :-D
Rena : Anak ketiga dari kami berempat. Dari postur tubuh tentu sudah bisa menunjukan kalau dia hidup paling makmur, berat badanya 2 x beratku (akunya juga terlalu kurus). Tapi jangan cuma ngomongin berat badan, otaknya juga encer. Dia paling jago ngomong enggres, Dulu ranking 1 biasanya dikelas. Meskipun ketawanya bisa bangunin orang koma, dia ini sosok yang menyenangkan. Care banget sama orang lain.Sejak sama-sama merantau ke Jekardah kita masih sering ketemu karena kost nya di Cinere, ga terlalu jauh dari Serpong.
Aku : Anak bungsu dari kami berempat, ga rapi, ga pinter-pinter amat dan biasa aja. udah gitu aja.
Lilis : Anak kedua tentunya. Pinter, saingan sama rena, ketua OSIS pas SMP dan SMA. Dia dulu paling sering gonta ganti pacar. sekarang sih udah insyaf. kalo udah ngobrol sama dia pasti kita akan otomatis tau kalau dia ambisius. Ambisiusnya positif kok. Buktinya berkat ambisiusnya ini dia berhasil dapet beasiswa S2 di ITB. Orangnya cerewet, tapi menyenangkan.
jadi intinya kenapa aku nulis tulisan tiada manfaat ini?? kangen aja sih sama masa-masa ingusan dilap pake lengan baju, masa masa, kalo lagi dapet nembus kemana-mana, masa-masa saling ngutang satu sama lain, dari 100 perak sampe puluh ribu.. kangen titik
Subscribe to:
Posts (Atom)

