Pagi, senyap. Tak yakin pasti aku terjaga atau terbangun. Mungkin Kelopak Mataku terlihat setengah rapat. Enggan, mengusai seluruh sendiku. Rasanya mustahil aku akan bisa berdiri.
Apa aku terlihat murung? Apa aku selalu terlihat murung? mungkin salah atau juga tepat sekali
Ngilu. Seoonggok jiwa yang kuyu, asing dan tertutupi, aku pun sulit sekali menjangkaunya. Apalagi diding es disekitarnya yang rapuh, rentan meleleh tapi berlapis-lapis.
Apa boleh menyandarkan dahi ditembok lusuh untuk sekejap saja, mungkin beberapa detik? atau setidaknya setengah jam? atau jika boleh mungkin dua hari? bagaimana jika berminggu-minggu?
Selalu seperti ada yang malu-malu, bimbang mau masuk atau keluar, dan pada akhirnya hanya mengganjal di tenggorokanku. hhhhh... seperti itu rasanya menjaga biar tak ada yang membanjir.
Jauh dari peradaban, hanya dengan pohon rindang tempatku berteduh.
Aku bertahan. dan akan tetap.
Apa kau melihatnya?
Tuesday, May 14, 2013
Tuesday, April 02, 2013
Mimpi Buruk
Sementara mimpi buruk itu sangat membuatku benci tidur juga bangun
Aku rasa beberapa kali aku memimpikan itu
Bahwa seperti pilihan hidup atau mati
Ternyata kau lebih memilih dia-
satu-satunya teman yang kucemburui segenap hati
Mungkin aku terlalu cemburu
Tapi aku tak mau terlihat terlalu cemburu
Pada akhirnya aku melumatnya sendiri
Kau tau?
Aku diciptakan sebagai orang yang selalu cemas
Kekhawatiran adalah aku
Terkadang aku sangat mahir menciptakan kekhawatiranku sendiri
Sepertinya ini kekhawatiranku paling tolol-paling mengerikan
Bahwa aku cemas-kalau seandainya ternyata cintamu mengalami erosi suatu saat
Kalau ternyata aku hanyalah awal dari kisahmu selanjutnya-selain aku
Aku belum pernah secemas ini sebelumnya
Apa aku berlebihan mencintaimu?
Aku tak bisa bersembunyi dari kekhawatiranku yang ini
"Malamku kini terasa sendu, masih tergagap
berharap tau apa inginmu
Mungkin aku tak seindah yang ada dikhayalmu
Mungkin aku tak seperti orang-orang sebelumku
Kuharap kau tau kalau hati ini telah terpaut padamu
Kuingin mampu pupuskan khawatirmu
Tenanglah sayang, aku tak sebodoh itu
biarkan cintaku untukmu terkikis
Terima kasih untuk khawatirmu
Love you sayang.."
Sepertinya aku sudah membumbung sampai langit-langit kamarku
Kau menulisnya...
Aku tau pada akhirnya aku hanya akan merasa bersalah atas sikapku padamu..aku rela menanggungnya, karena aku membutuhkanya..sedikit ungkapan cintamu..sedikit meredakan ketakutanku..sedikit rasa percaya diriku bahwa aku dicintai..bahwa benar yang kupilih....bahwa aku tak menyakiti siapapun kelak..bahwa aku tak akan menjadi candu untuk masalaluku..bahwa memang keberadaanku melengkapimu....
Bangun pagi hari ini aku bahagia....bukan maksudku tak ingin membagikanya padamu....tapi aku terlalu bahagia....aku takut kau akan merusaknya dengan ekspresimu yang biasa-biasa saja..atau bahkan memarahiku...karena aku sedang bahagia...
Sahabatku Raina.. apa kau tau? aku tau kau akan bersyukur karena aku bahagia. Aku bukan sedang membentengi diri darimu. Hanya kurasa kau sangat jauh.... aku ingin bicara padamu, tapi mungkin kau tidak.. jadi biar saja..aku tetap berdoa untukmu.
Aku rasa beberapa kali aku memimpikan itu
Bahwa seperti pilihan hidup atau mati
Ternyata kau lebih memilih dia-
satu-satunya teman yang kucemburui segenap hati
Mungkin aku terlalu cemburu
Tapi aku tak mau terlihat terlalu cemburu
Pada akhirnya aku melumatnya sendiri
Kau tau?
Aku diciptakan sebagai orang yang selalu cemas
Kekhawatiran adalah aku
Terkadang aku sangat mahir menciptakan kekhawatiranku sendiri
Sepertinya ini kekhawatiranku paling tolol-paling mengerikan
Bahwa aku cemas-kalau seandainya ternyata cintamu mengalami erosi suatu saat
Kalau ternyata aku hanyalah awal dari kisahmu selanjutnya-selain aku
Aku belum pernah secemas ini sebelumnya
Apa aku berlebihan mencintaimu?
Aku tak bisa bersembunyi dari kekhawatiranku yang ini
"Malamku kini terasa sendu, masih tergagap
berharap tau apa inginmu
Mungkin aku tak seindah yang ada dikhayalmu
Mungkin aku tak seperti orang-orang sebelumku
Kuharap kau tau kalau hati ini telah terpaut padamu
Kuingin mampu pupuskan khawatirmu
Tenanglah sayang, aku tak sebodoh itu
biarkan cintaku untukmu terkikis
Terima kasih untuk khawatirmu
Love you sayang.."
Sepertinya aku sudah membumbung sampai langit-langit kamarku
Kau menulisnya...
Aku tau pada akhirnya aku hanya akan merasa bersalah atas sikapku padamu..aku rela menanggungnya, karena aku membutuhkanya..sedikit ungkapan cintamu..sedikit meredakan ketakutanku..sedikit rasa percaya diriku bahwa aku dicintai..bahwa benar yang kupilih....bahwa aku tak menyakiti siapapun kelak..bahwa aku tak akan menjadi candu untuk masalaluku..bahwa memang keberadaanku melengkapimu....
Bangun pagi hari ini aku bahagia....bukan maksudku tak ingin membagikanya padamu....tapi aku terlalu bahagia....aku takut kau akan merusaknya dengan ekspresimu yang biasa-biasa saja..atau bahkan memarahiku...karena aku sedang bahagia...
Sahabatku Raina.. apa kau tau? aku tau kau akan bersyukur karena aku bahagia. Aku bukan sedang membentengi diri darimu. Hanya kurasa kau sangat jauh.... aku ingin bicara padamu, tapi mungkin kau tidak.. jadi biar saja..aku tetap berdoa untukmu.
Tuesday, March 05, 2013
Si Embun Pagi
Embun pagi itu mulai menua, lebih sering mengerutkan dahi dibanding merekahkan senyumnya. ia telah membasahi daun indah yang sempat kering. Matahari kota telah sering menyengatnya, menempanya menjadi setangguh raksa, meski ia tetap menyimpan sutera atau rapuh semata?
Tetap saja, ia menetes-netes. Ia sempat mengalirkan kasihnya dalam rute sungai yang berliku. Ada yang melihatnya sebagai mahkota mawar yang tangkainya berduri, ada yang mengendusnya sesemerbak melati, ada yang mengingatnya adalah ilalang dungu yang sepi.
Ia tetap menetes. Membangunkan capung-capung yang tertidur. Mengalihkan perhatian kumbang dari mengejar sang bunga. Menguras tenaga untuk tetap terjaga dari hidup yang terkadang lemah dan payah.
Ia bermuara, muara untuk menggendongnya ke syurga......
Tetap saja, ia menetes-netes. Ia sempat mengalirkan kasihnya dalam rute sungai yang berliku. Ada yang melihatnya sebagai mahkota mawar yang tangkainya berduri, ada yang mengendusnya sesemerbak melati, ada yang mengingatnya adalah ilalang dungu yang sepi.
Ia tetap menetes. Membangunkan capung-capung yang tertidur. Mengalihkan perhatian kumbang dari mengejar sang bunga. Menguras tenaga untuk tetap terjaga dari hidup yang terkadang lemah dan payah.
Ia bermuara, muara untuk menggendongnya ke syurga......
Subscribe to:
Posts (Atom)