jangan menganggapku sebagai antagonis, bukankah kalian yang meninggalkanku sendiri? apa aku perlu meminta kalaian menyapaku? aku rasa kalian tau seperti apa aku. aku bersyukur untuk kebahagiaan kalain, sungguh. kapan terahir kita bertemu? sudah lama ya? tidak, aku tidak membenci kalian, untuk apa? hanya saja seperti katamu kan? terkadang teman perlu rasa dibutuhkan. apa kamu ingat? mudah-mudahan. dan aku tak pernah mengingat kalian atau satu dari kalian tergopoh-gopoh membagi masalah kalian. sederhana.
dan memberiku alasan untuk menyelesaikan semuanya, sendiri. perlahan yang aku ingat aku yang lebih sering menanyakan kabar kalian, bukan seperti diriku yang dulu kan?.
akhir-akhir ini aku sering teringat masa kecil kita dulu, sebelum kita menyebut kita adalah sahabat, dulu sekali kalian menjauhiku, aku bahkan sering tak kalian ajak belajar. entah karena aku bungsu diantara kalian. entahlah yang jelas setelahnya kita menjadi teman kental. kita berempat. selebihnya kalian memberiku kenangan-kenangan indah, kekanak-kanakan, riang dan seterusnya.
terkadang lucu, mengingat dulu kita sering jatuh hati pada orang yang sama, beberapa kali aku memenangkanya, bukan maksudku membanggakan, itu hanya masa lalu, akupun tak tau apa dulu aku benar-benar jatuh hati, mungkin juga aku hanya terlalu tega pada kalian. apa ini karma? menjadi keterasinganku dari dunia kalian. dan kamu bilang aku yang sibuk membentengi diri agar kalian tidak melihatku? aku mengingatnya dengan sangat jelas.
baiklah, kali ini harus lebih tabah saja bagiku, mungkin saja ada kesempatan untuk bertemu kalian lagi, atau diberi kehidupan lagi, untuk berteman lagi, dengan kalian lagi. itu saja.
semoga kalian ditakdirkan untuk hidup bahagia dan berhasil. aamiin.
Friendship needs no words--it is solitude delivered from the anguish of loneliness
--Dag Hammarskjold--
Sincerity, truth, faithfulness, come into the very essence of friendship,
--William Ellery--
The proper office of a friend is to side with you when you are in the wrong. nearly anybody will side you when you are in the right
--Mark Twain--
Friday, February 08, 2013
Tuesday, January 22, 2013
Anak KEcil KEriting
Tidak terlalu sepi..tapi waktu itu aku mencoba tak terbebani. aku menutup mataku mencari ketenangan dalam gelap. aku mendengarnya, suara jarum detik pada jam dinding. apa lagi? suara-suara itu.. anak kecil berambut keriting, berhidung mancung tertawa dengan teman-temanya, anak kecil yang periang dan selalu berbunga-bunga karena sepertinya banyak anak laki-laki yang mengejarnya, kelihatanya ia tak terlalu peduli, dia lebih bahagia bersama teman-teman dekatnya.
Lebih erat lagi kupejamkan mata, aku melihatnya, jelas sekali anak kecil berambut keriting berhidung mancung sudah lebih tinggi, kurus, dengan baju putih yang tak terlalu putih itu, sudah sobek dan hanya ditempel plester, rok biru yang sobek dibagian lipatan depan hanya di kaitkan dengan peniti besar, masih bersama teman-temanya, sepertinya dia bahagia mendribel bola basket sepanjang hari, setiap hari. sesekali bertanding dengan anak laki-laki.
Kuhirup nafas dalam-dalam, dia bukan lagi anak kecil, dia memakai rok abu-abu panjang menjuntai sampai ketanah, bajunya pun panjang, dia mengenakan kerudung, tak lagi terlihat keriting dan berantakan, masih bersama teman-temanya, dia tertawa, lebih sering tertawa dari pada apapun juga bersama teman-teman dekatnya, masih suka mendribel bola basket hanya kostumnya yang berbeda, celana trining panjang, kaos panjang dilapisi kaos tim, dan kerudungnya. dia terlihat bahagia, banyak bergerak dan bahkan sering menggoda gurunya!
Anak kecil keriting dan mancung itu beberapa tahun yang lalu bernostalgia dengan teman laki-lakinya dari taman kanak-kanak, dia terlihat bahagia meski dia baru saja ditinggalkan pacarnya. hingga akhirnya keraguan merasukinya. dia berhenti bernostalgia.
Anak kecil keriting dan mancung itu sudah tenggelam dalam hiruk pikuk kepentingan dan kebutuhan pekerjaan. Dia nyaris lupa caranya tertawa dulu, dia ditinggalkan teman-temanya karena menjadi malas tertawa dan bercerita.
Satu setengah tahun yang lalu anak kecil keriting dan mancung yang sudah jarang tertawa itu bertemu denganmu, pertama-tama ia meminjam kamus oxfordmu, setiap hari duduk disampingmu, diam-diam mempelajarimu, bagaimana kau selalu tertawa, membuat orang tertawa, bagaimana kau menatap orang dengan tulus, bagaimana bahwa ternyata kau memiliki magnet untuk disayangi orang-orang disekelilingmu. kau, nyaris tanpa cela.
Mataku lelah terus terpejam, mengenang banyak hal yang kau lewati dengan anak kecil keriting dan mancung yang sudah jarang tertawa itu, membayangkan bahwa selanjutnya aku cemburu dengan kedekatanmu dengan teman-teman wanita yang lain, membayangkan bahwa mungkin kau akan bosan dengan dengan anak kecil keriting dan mancung yang sudah jarang tertawa itu...
Mataku mulai berair, aku terlalu cemburu, atau terlalu takut kehilanganmu, aku menjadi tidak rasional, dan menjadi tamak atas waktumu dan dirimu. atau mungkin anak kecil keriting dan mancung yang sudah jarang tertawa itu mulai tak percaya diri, bahwa mungkin anak kecil keriting dan mancung yang sudah jarang tertawa itu akan membosankan dan tidak terlalu tinggi untuk disampingmu.
Aku membuka mata karena mataku mulai pegal-pegal, kulihat di cermin, anak kecil keriting dan mancung yang bermuka sendu itu menatapku sebentar, lalu sibuk mencari handphone nya, dan mulai menekan beberapa tombolnya "mas?" - send.
Friday, December 28, 2012
ZZZssss
Menjelang Istirahat..Meski bukan waktu yang tepat untuk mengadu....
Seperti ketika pertama mengenalmu, senyumu itu. Seperti pertama kali kau datang ke kost-ku, senyumu itu. Seperti ketika pertama kau mengenal keluargaku, senyumu itu. Itulah dirimu dan senyumu itu. Setiap raut wajahku kau selalu cemas dan ingin tau.
Aku, banyak hal yang kurasa perlu dipikirkan, sebenarnya tidak perlu. Aku, mungkin takabur karena bahkan aku sering tak peduli pada teman-temanku, ada dirimu, lebih dari cukup bagiku. Kau bukan alasanya sebenarnya, hanya saja... entahlah
Aku perempuan biasa, sangat biasa, tapi kau tak biasa, kau mencintaiku dengan cara berbeda. Jadi aku sedang berusaha mencintaimu dengan cara yang tak biasa juga. Aku tak mau menjadi balita yang merengek-rengek padamu, aku menutup mata ketika perempuan-perempuan lain dengan bangga seperti nenek-nenek lumpuh yang diantar jemput kemana saja, aku bahkan tak memintamu memarkirkan motorku, aku terlihat sesenang mungkin semampuku meski kau lebih memilih makan malam bersama teman-temanmu, aku tak bermaksud membuamu rela melakukan apa saja. kita berjumpa setiap hari, dan kita lupa untuk sekedar bertanya "apa kau baik-baik saja?", terkadang mungkin kau hanya lupa bahwa aku adalah perempuan, perasaan ingin dilindungi, diperhatikan, diperjuangkan meski aku mampu sekedar pulang-pergi sendiri itu selalu ada. aku menutup mata, menggerutu, lalu murung.
Baiklah, aku harus mencontoh ibuku, yang sederhana, mengabdi pada suami, bahkan berfikir jernih dan menopang keluarga meski pada suatu waktu tak dinafkahi.
ya, untuk apa lagi aku mengeluhkan, aku percaya dan aku yakin akan selalu percaya kau akan mampu memimpinku kelak. kau selalu dekat dengan hal baik, lalu kau selalu mampu menerimaku yang pemurung, pemarah, pencemburu...
mungkin tak pernah aku ungkapkan.. tapi aku selalu bersyukur untuk setiap kehadiranmu disisiku..kau seperti kaporit untuk kepala batuku yang sering keruh, dan senyumu itu..
Seperti ketika pertama mengenalmu, senyumu itu. Seperti pertama kali kau datang ke kost-ku, senyumu itu. Seperti ketika pertama kau mengenal keluargaku, senyumu itu. Itulah dirimu dan senyumu itu. Setiap raut wajahku kau selalu cemas dan ingin tau.
Aku, banyak hal yang kurasa perlu dipikirkan, sebenarnya tidak perlu. Aku, mungkin takabur karena bahkan aku sering tak peduli pada teman-temanku, ada dirimu, lebih dari cukup bagiku. Kau bukan alasanya sebenarnya, hanya saja... entahlah
Aku perempuan biasa, sangat biasa, tapi kau tak biasa, kau mencintaiku dengan cara berbeda. Jadi aku sedang berusaha mencintaimu dengan cara yang tak biasa juga. Aku tak mau menjadi balita yang merengek-rengek padamu, aku menutup mata ketika perempuan-perempuan lain dengan bangga seperti nenek-nenek lumpuh yang diantar jemput kemana saja, aku bahkan tak memintamu memarkirkan motorku, aku terlihat sesenang mungkin semampuku meski kau lebih memilih makan malam bersama teman-temanmu, aku tak bermaksud membuamu rela melakukan apa saja. kita berjumpa setiap hari, dan kita lupa untuk sekedar bertanya "apa kau baik-baik saja?", terkadang mungkin kau hanya lupa bahwa aku adalah perempuan, perasaan ingin dilindungi, diperhatikan, diperjuangkan meski aku mampu sekedar pulang-pergi sendiri itu selalu ada. aku menutup mata, menggerutu, lalu murung.
Baiklah, aku harus mencontoh ibuku, yang sederhana, mengabdi pada suami, bahkan berfikir jernih dan menopang keluarga meski pada suatu waktu tak dinafkahi.
ya, untuk apa lagi aku mengeluhkan, aku percaya dan aku yakin akan selalu percaya kau akan mampu memimpinku kelak. kau selalu dekat dengan hal baik, lalu kau selalu mampu menerimaku yang pemurung, pemarah, pencemburu...
mungkin tak pernah aku ungkapkan.. tapi aku selalu bersyukur untuk setiap kehadiranmu disisiku..kau seperti kaporit untuk kepala batuku yang sering keruh, dan senyumu itu..
Subscribe to:
Posts (Atom)