Thursday, February 18, 2021

The Recommended Doctors

Kesedihan yang sukar diatasi adalah ketika suami atau anak sakit yang serta merta membuat hatiku sakit karena perasaan bersalahku tidak menjaga kesehatan mereka dengan baik. Menjadi wanita pekerja yang harus memfokuskan diri pada saat bekerja layaknya tak ada anak dan suami yang perlu diprioritaskan, sekaligus menjadi ibu dan istri yang harus mengabdi pada keluarga layaknya tak ada pekerjaan yang perlu dipikirkan memang bukan hal yang mudah tapi terkadang tidak seberat itu juga sebenarnya. beruntung sekali atasan dan rekan kerjaku adalah orang-orang yang super pengertian. Tak pernah ada kendala untuk meminta izin mereka saat suami atau anak sakit. Suami dan anakku juga sungguh luar biasa pengertian karena tidak pernah memaksaku jika memang ada pekerjaan mendesak.

Semenjak berkeluarga, rasanya orientasi hidupku mulai berubah. Hal terpenting buatku adalah kesehatan mereka, dan alhamdulillah ini menjadi modal penting untuk memotivasi semangat juangku dan Allah pun jarang sekali kasih jatah aku sakit. Alhamdulillah..

Suamiku yang memang langganan asam lambung, maag dan kawan-kawannya pernah mengalami mual muntah hampir 2 minggu. Suamiku termasuk orang yang jarang sekali mau berobat, karena kalau sakit ringan saja menurutnya harusnya bisa diatasi sendiri. Pertengahan Desember 2018 lalu, ketika Ayyash berusia 4 bulanan, asam lambung suamiku kambuh, dan dihari kedua kami segera ke dokter umum karena tidak ada asupan yang masuk sama sekali ke tubuhnya. alhamdulillah selang beberapa hari kondisinya membaik dan ia bisa kembali bekerja. 

Akhir Desember, sebelum obat asam lambungnya habis, kami berjalan-jalan ke TMII karena memang sudah lama ingin mengajak ibuku berlibur. Qadarullah, obat asam lambungnya tertinggal, dan jadilah siang itu dia melewatkan obatnya. Dengan ditambah kondisi badannya yang kelelahan karena menyopir cukup lama, ia kembali drop, mual muntahnya mulai tak terkendali. Kami pun bergegas ke dokter terdekat di sekitar Pakualam, Serpong, dan ia mendapat ijin bekerja untuk 2 hari. Dihari ketiga suamiku yang rajin donor darah itu tanpa pikir panjang menjalankan agenda rutin dikantornya itu. Beberapa saat setelah mendonorkan darahnya, ia muntah hebat dan pulang kerumah dalam keadaan lemas. Malamnya, tak ada asupan yang masuk sama sekali. Esok harinya aku membawanya ke Selaras BSD dan suamiku kembali mendapat obat pereda asam lambung dan surat keterangan dokter. Dua hari berselang dan kondisinya masih sama. Suamiku yang biasanya dengan suka cita menggendong Ayyash, saat itu sama sekali tidak bangkit dari tempat tidur saat Ayyash merengek minta digendong bapaknya. Aku sangat beruntung karena dirumah ada Ibuku yang mengurus Ayyash dan telaten sekali memasakkan bubur untuk suamiku. Pikiranku di kantor sangat kalut dan gelisah. aku sering sekali izin pulang cepat padahal aku baru beberapa bulan masuk kerja setelah cuti melahirkan. Sambil memandangi foto-foto di gallery HPku, aku baru menyadari bahwa mata suamiku berwarna kuning. Aku segera browsing segala sesuatu tentang muntah, mata kuning dan lain sebagainya. Aku juga segera berkonsultasi dengan dokter kantorku. 

Aku pulang dan mengecek mata suamiku dan benar, kuning. Suamiku sangat lemas, tapi masih menolak kubawa ke dokter dengan alasan sudah 3 kali ke dokter dan sama saja. Aku membujuknya untuk ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS yang memang lokasinya agak jauh dari tempat kami. Akhirnya kakak iparku membujuk untuk membawanya ke klinik Diana Permata Medika dulu dan suamiku menurut. Malam itu aku yang sudah berhasil menidurkan Ayyash, mendapat pesan dari suamiku "Bu, aku ga kuat", saat itu juga aku bergegas ke rumah kakakku, dan menitipkan Ayyash ke Ibu dan kakakku. Jam 10.00 WIB aku tiba di Klinik dan kulihat antrian memang panjang sekali. Aku duduk disamping suamiku dan tak berapa lama ia berjalan cepat ke kamar mandi. Kutungguinya di depan pintu. Sedih sekali mendengar ia muntah-muntah berhari-hari. Ia dipapah kakak iparku ke ruang dokter. Aku membeli air mineral di toko depan Klinik. Sekembalinya dari Klinik kutanyakan padanya apa anjuran dokter, dan benar di harus ke spesialis penyakit dalam.

1. Dr. dr. H. Chudahman Manan, Sp.PD., KGEH. FINASIM di RS. EMC Tangerang (Saat Suamiku Hepatitis A)

Ibuku meyakinkanku akan mengabariku kalau terjadi sesuatu pada suamiku. Hari itu hari Jumat, sekitar minggu kedua bulan Januari 2019, setelah browsing review dokter di berbagai website, kuputuskan untuk memilih Dr. dr. H. Chudahman Manan, Sp.PD., KGEH. FINASIM, bukan hanya karena gelar akademisnya yang panjang dan dari Universitas-ternama Indonesia dan Jepang, tapi juga karena reputasinya yang dari berbagai artikel bagus. Jadwal prakteknya di RS.EMC Tangerang memang unik, hampir tengah malam, dan beliau melayani pasien bahkan sampai pagi. Aku tak peduli suamiku setuju atau tidak, aku segera menelpon RS dan meminta untuk dijadwalkan malam itu untuk konsultasi dan endoskopi.

Jumat malam sekitar 09.30 aku menitipkan Ayyash kembali di rumah kakakku untuk menemani suamiku ke RS. EMC Tangerang. Pelayanan yang cukup ramah membuatku tak canggung bertanya ini itu dari mulai pendaftaran sampai ke ruang praktek dr. Manan (baru tahu nama panggilan beliau di meja resepsionis, aku bahkan sampai mengeja namanya dan gelar spesialisnya karena resepsionisnya bingung). Antrian sudah cukup panjang tetapi suster-susternya cukup helpful dan charming melayani kami sebelum diperiksa oleh dr. Manan. Tibalah saat suamiku di panggil ke ruang observasi. Kesenioran beliau dari yang kubaca diartikel memang benar adanya, terlihat dari cara beliau menyampaikan penjelasan tentang fungsi organ-organ dalam. Dengan santai beliu memeriksa suamiku. Meskipun malam sudah larut sekali, namun nampaknya energy belum berkurang sedikitpun, dan kemudian mewanti-wanti kami untuk tidak lagi meminum kunyit sebagai obat sakit perut, karena sakit perut ada bermacam-macam dan belum tentu obatnya kunyit. Beliau menanyakan kembali apakah kami yakin akan endoskopi dengan biaya pribadi atau mengurus BPJS terlebih dahulu. Aku meyakinkan kalau kami akan mengurus secara pribadi. Malam itu juga suamiku diminta untuk melakukan cek darah di lab yang hasilnya akan keluar esok hari. Kami harus menebus obat di bagian apotek dan melakukan pembayaran untuk konsultasi, pemeriksaan, cek lab, dan obat yang total kurang lebih 2 jt. Suamiku diminta berpuasa sebelum melalukan endoskopi, jadi endoskopi dijadwalkan esok hari setelah hasil lab keluar.

Sabtu, ba'da dzuhur, Aku menerima telpon dari RS dan menyampaikan bahwa suami tidak perlu endoskopi tetapi harus segera dirawat karena suamiku mengidap Hepatitis. Suamiku menolak, ketika telpon diseberang sudah ditutup. Aku bersikeras akan mengambil hasil labnya sendiri ke RS dan berkonsultasi. Akupun diantar kakak iparku. Setelah mendengar penjelasan suster aku memutuskan untuk rawat inap dengan biaya pribadi, agar suamiku ditangani langsung oleh dr. Manan, karena tentunya berbeda dengan layanan BPJS. Aku segera meminta kakak iparku menjemput suamiku dan meminta suamika bersiap dengan baju-bajunya. Dibagian registrasi rawat inap aku diminta membayar deposit maksimal 6.500.000, minimal 20%. Aku segera membayarkan maksimal deposit ketika suamiku datang. Dia panik dan menanyakan kenapa bayar, karena sebelumnya aku bilang pakai BPJS. Suamiku diminta untuk ke ruang IGD untuk dilakukan pemeriksaan sebelum ke ruang rawat inap. Aku yang masih diloket pembayaran sedang panik karena, petugas loket mengatakan bahwa deposit tersebut diluar tindakan tertentu. Karena terlalu panik dan tidak ada pengalaman mengurus ini itu di RS, aku membayangkan biaya yang habis hingga puluhan lagi atau ratusan yang aku tidak bisa bayangkan. Berbekal beberapa bacaan artikel tentang pengobatan Hepatitis, aku segera menghubungi atasanku yang super baik, Pak Moko, dan menceritakan kondisiku. Pak Moko dengan segera mentransfer 5 jt untukku berjaga-jaga. Meskipun di rekening masih ada beberapa, tapi aku yang terbiasa haru well-prepared ini masih ketakutan uangku tak cukup. Aku menghubungi temanku Eka, dan dia segera mentransfer 3 jt. Suamiku segera mendapat kamar kelas II dan segera ditangani dengan baik. 

Di hari Minggu, Raina datang dengan membawa banyak sekali makanan, dan meninggalkan CC untukku dengan mengirimku WA yang berisi PINnya. Sungguh aku dikelilingi orang-orang baik. Dukungan dari atasan dan teman-teman suamiku juga luar biasa. Mereka datang menjenguk dari Jaksel. Atasannya sangat perhatian menanyakan kondisi suamiku setiap hari dan meyakinkanku untuk tidak segan meminta bantuannya. Bapakku datang dari kampung, dan adikku dari Jakut menggantikanku sementara berjaga. Karena setiap pagi aku harus pulang, membersihkan rumah, mencuco baju, dan meninggalkan ASIP untuk Ayyash (beberapa kantong besar ASIP ku buang karena aku tidak yakin ke-higienis-annya saat memompa di RS). Kondisi suamiku berangsur-angsur membaik, dan diperbolehkan pulang Selasa malam. Aku mengurus check-out di loket, dan alhamdulillah... ternyata depositku masih tersisa sekitar 1,5 jt. Aku bersyukur sekali. Kami kembali dengan bahagia, dan aku segera mengembalikan uang Pak Moko, Eka, dan CC Raina... terima kasih sekali pada mereka. Beberapa hari kemudian, setelah suamiku bekerja kembali, atasannya meminta semua kwitansi pengobatannya untuk diserahkan ke bagian GA. dan seluruh pengobatan yang total sekitar 10 jt direimburst oleh kantornya. Alhamdulillah....

2. dr. Liliyani Alam di Villa Melati Mas, BSD 

21 Agustus 2020, tepat ketika Ayyash berulang tahun yang kedua, pagi hari, aku ditelpon dokter kantorku, dr. Ranny, yang mengabarkan kalau aku masuk tracking Covid-19 karena kontak erat dengan positive Covid-19. Rasanya panik, dan tidak karuan sama sekali, aku yang berencana mengadakan syukuran kecil-kecilan langsung menghubungi kakakku agar ia dan anak-anaknya jangan ada yang kontak denganku. Aku sudah memperlakukan diriku dan keluargaku sebagai positive. Aku segera meminta suamiku pulang dari kantor saat itu juga dan menghubungi RS terdekat untuk SWAB PCR yang alhamdulillah kami semua negative. 

Ketika menunggu hasil SWAB PCR, aku melihat ada sedikit luka di atas bibir Ayyash yang kupikir luka biasa. Nyatanya, setelah beberapa hari luka itu melebar dan tak kunjung kering. Aku membawanya ke bidan terdekat karena masih terlalu takut untuk ke RS. Beberapa jenis obat dan sebuah salep menjadi harapan buat kami agar luka Ayyash lekas membaik. 3 hari berselang dan luka Ayyash makin melebar, sampai ke dagu, telinga, tangan, dan kaki. Sedih sekali ketika bertemu orang, dan raut muka mereka seakan iba dan jijik. Ayyash tetap ceria, dia masih tetap menyusuku, dan makan seperti biasa, dia bahkan bisa menahan diri untuk tidak menggaruk lukanya. Hanya saja ketika tidur, karena ia sudah tak mau kupakaikan sarung tangan, beberapa kali ia menggaruk lukanya, yang tentunya mengakibatkan lukanya semakin parah. Lukanya yang seperti koreng berwana merah itu mulai mengeluarkan nanah kuning. Hari ke empat setelah berobat ke bidan aku mendapat rekomendasi dokter yang dulu menyembuhkan keponakanku dengan kasus yang sama. Melalui kakakku, aku mendapat nomor pendaftaran dengan jadwal jam 10. Suamiku mengambil cuti dan aku meminta izin jam 09.30 sampai selesai.

Namanya dr. Liliyani Alam, tempat praktiknya di Villa Melati Mas, BSD. Penerimaan pendaftaran hanya di jam 08.00, dan pemeriksaan dimulai jam 09.00 atau jam 10.00 sampai selesai. Sebelumnya beberapa kali Ayyash sakit, kakakku merekomendasikan dokter ini, tetapi karena biasanya kau hanya bisa mengantar malam, aku memilik DSA di Anaku Sayang. Tak seperti biasanya ketika masuk keruang observasi, dengan dr. Liliyani,  Ayyash sama sekali tak merasa takut. Ia bahkan dengan sengan hati menunjukan luka lukanya di tangan, kaki, dan telinga ke beliau setelah dengan riang beliau mengajak 'tos'. Ayyash langsung menaiki tangga menuju tempat tidur tanpa diminta, membuka mulutnya lebar ketika belaiu membawa senter. Beliau juga senang sekali menceritakan penyebab sakit, apa yang boleh dimakan, apa yang dilarang dimakan, dan banyak sekali cerita seputar penyakit. Beliau juga sabar sekali meladeni pertanyaanku dan suamiku, juga keusilan  Ayyash yang bermain tinmabangan, naik turun tempat tidur. Oleh-oleh dari beliau adalah antibiotik, 1 jenis obat, NACL dan informasi yang tak ternilai harganya. Sim salabim, aku dan suamiku mengelap luka Ayyash hampir setiap saat, terutama ketika Ayyash tidur, kami juga disiplin memberinya antibiotik dan obat, dan 1 hari setelahnya luka Ayyash mengering. Luar biasa, di hari kedua, Luka Ayyash tinggal menunggu mengelupas dengan sendirinya. Di hari ke tiga ketika Ayyash haru kontrol, lukanya sudah hampir bersih dan dr. Liliyani menyarankan untuk melanjutkan NACL dan dia menambahkan salep racikannya sendiri. Tidak sampai tiga hari luka Ayyash sudah benar benar bersih. Selanjutnya beberapa kali Ayyash sakit, kami hanya mempercayakannya pada beliau.

Kali ini, hari Minggu, 14 Februari 2021, aku yang masih malas-malasan bangun akhirnya berhasil bangkit dan mandi sekitar jam 08.00. Sesuai rencana, kami bertiga ke Pasar 8 Alam Sutera untuk belanja bahan makanan. Saat itu kondisi Ayyash sedang diare ringan. Aku menolak ajakan suamiku untuk sarapan dulu sebelum belanja dengan alasan takut Ayyash keburu pup. Jadilah kami belanja, dan benar, ketika kami sedang di toko baju, Ayyash pup dan bisa terdengar dari bunyi dan terium dari aromanya, pup nya masih encer. Kamipun bergegas pulang. Aku mengurus Ayyash terlebih dahulu, dan suamiku membereskan rumah. Ayyash yang masih nen merengek ingin nen setelah mandi. Aku baru bisa menyiapkan sarapan sekitar jam 10.00, beberapa lauk, dan sambal petai selesai dengan aroma yang luar biasa menggoda. Aku makan sedikit karena memang aku sedang mengurangi porsi makanku. Sedangkan suamiku makan dengan kalap dan sambal yang banyak. Beberapa jam setelahnya ia muntah-muntah, selepas dzuhur badannya panas dan dia mengeluh nyeri di perutnya. Jurus browsingku keluar dan aku merebus jahe dan sereh untuk ia minum. Malam itu mual muntahnya semakin menjadi. Aku panik dan teringat waktu ia terkena Hepatitis A dulu. Aku mengajaknya kedokter tapi langsung ditolaknya dengan alasan tidak sesakit dulu dan matanya tidak menguning. Hari Senin aku mengambil cuti, karena Ayyash masih rewel, suami masih muntah hebat, dan ada jadwal zoom meeting dari kampus yang harus kuhadiri karena aku salah satu panitianya. Zoom meeting selasi jam 12.30, dan aku harus segera menyiapkan laporan kepada koordinator acara. Jam 13.00 setelah shalat aku mengajak suamiku ke Klinik Diana Permata Medika dengan paksa, karena sudah tak mungkin dapat nomor antrian di dr. Liliyani. Pemeriksaan dilakukan, tanpa pertanyaan banyak, dan beberapa kali aku mengajukan pertanyaan dan meyampaikan informasi tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari dokter. Sepertinya dokter yang ini tipe dokter yang tidak suka terlalu banyak bicara. 

Malamnya, suamiku masih muntah hebat, dan tidak ada asupan yang masuk selain air rebusan jahe, madu dan safran yang kubuat, serta pisang ambon. Malam itu juga aku mencari ubi ungu dan singkong untuk ku rebus esok hari. Pagi hari aku memaksakan diri masuk kerja dan berjanji akan pulang lebih cepat. Jam 08.00 aku segera melakukan pendaftaran di dr. Liliyani dan meminta untuk dijadwalkan jam 13.00 saja. Jam istirahat aju izin pulang dan membawa suamiku ke dr. Liliyani. Beliau memeriksa perut suamiku cukup lama, lalu menjelaskan bahwa lambung suamiku sangat keras, jadi tidak mungkin ada makanan yang masuk. Dia menawarka untuk menyuntik suamiku yang langsung aku setujui. Aku kurang mengerti nama injeksinya, karena aku awam sekali, tapi itu pertama kalinya aku melihat suntikan di area dada/perut. Setelah itu beliau meresepkan antibiotik dan beberapa obat. Sesampainya di rumah, suamiku langsung meminum 3 obat sebelum makan, makan dan minum antibiotik, dan sim salabim, tidak ada muntah lagi. Sampai di hari ke 2 ini, suamiku tidak lagi muntah, meskipun belum berani makan nasi, atau makanan berserat, dan hanya makan bubur, kentang rebus, dan ubi rebus. Besok adalah jadwal kontrol suamiku, dan semoga segera sembuh seperti sedia kala.

Buatku dr. Liliyani untuk dokter umum dewasa dan anak dan dr. Manan untuk penyakit dalam are highly recommended.



Monday, November 25, 2019

A Cup of Love for My Other Half.



Tiba-tiba tangan kekar memeluku dari belakang, suamiku baru mau tidur rupanya.
“mmmh.. baru inget punya istri ya?” tanyaku yang masih mengantuk.
“mmm… ndak” kayanya ceria sambil mencium pipiku. 

Entah  jam berapa itu yang pasti aku berfikir kalau suamiku baru selesai main game dan aku mengantuk sekali. Akupun kembali tertidur pulas.
Mimpiku yang tak bisa kuingat berakhir saat anaku menangis meminta menyusu. Aku menyusuinya dan teringat belum shalat Isya. Setelah anakku kembali tertidur akupun beranjak dari tempat tidurku untuk menunaikan shalat Isya. Jam menunjukan pukul 02.00 dini hari. Selepas shalat Isya aku berniat menjemur baju dan memompa ASI-ku. Tapi apalah daya, mata ini tertarik sekali pada suami dan anakku yang tertidur pulas. Aku kembali ketempatku : ditengah-tengah mereka. Aku memeluk anakku sambil menciumi kening dan pipinya. Suamiku memelukku dari belakang. Momen yang terjadi setiap kami tidur ini yang membuat hati tenang dan bahagia.
Adzan subuh berkumandang, Anakku masih menyusu, tak mau lepas. Entah sudah berapa lama. Kubiarkan saja sampai aku ikut tertidur. Aku kembali bangun, rasanya sudah siang sekali. Sederet pekerjaan rumah sudah mengisi kepalaku. Aku belum shalat subuh pula. Aku langsung bangkit untuk shalat subuh. Meski aku ingat hari ini suamiku libur tapi aku tetap bertekad tidak akan meninggalkan banyak pekerjaan rumah untuknya.
Selepas shalat aku menyalakan kompor untuk memasak air agar hangat untuk memandikan anakku nanti. Kubereskan cucian piring. Kulihat kain pel sudah tergantung sepertinya suamiku sudah mengepel lantai, dan memang lantai terasa lebih bersih karena memang suamiku mengepel lebih bersih daripada aku. Lalu aku bergegas mandi. Kubuka mesin cuci untuk mengeluarkan cucian bersih karena akan kujemur setelah selesai mandi. Ternyata mesin cuci telah kosong. Entah jam berapa suamiku menjemur dan mengepel. Rasa bersalahku menuduhnya bermain game sampai larut menyeruak didadaku. Kuperiksa jemuran, dan ternyata sudah hampir kering. Pastinya semalam aku tertidur pulas dan suamiku melakukan semuanya. Segera kuraih wajah suamiku yang masih mengantuk dan kucium pipi dan keningnya. Lalu dia segera bangun.
“maaf, maaf aku pulas sekali” katanya kaget sambil seketika bangun dari tempat tidur
“masih bisa tidur lagi mas kalau mengantuk, maaf ya semalem aku ga tau kamu jemur dan ngepel, makasih ya” aku menambahinya dengan cengiran.

Aku mempersiapkan pakaian, susu dan makanan anakku, untuk sarapan suamiku aku titipkan ke kakskku yang memang berjualan makanan untuk sarapan. Suamiku bergegas mandi, kutitipi banyak pesan, dan aku berjanji akan pulang saat istirahat nanti. Suamiku terlihat bahagia.
Di perjalanan menuju kantor aku teringat beberapa hari sebelumnya, ketika hari libur dan aku ingin bangun siang. Ternyata rumah sudah bersih, suamiku sudah menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci botol dan pompa ASI-ku, menjemur pakaian melipat pakaian kering. Aku bangun dengan malu dan segunung perasaan bersalah. Suamiku hanya tertawa dan berdalih ia bangun kepagian.
Begitu baik suamiku, sampai kakakku sering memujinya. Karena tangannya begitu ringan membantuku. Bahkan pekerjaan rumah lebih beres ditangannya. Suamiku sangat lihai menidurkan anakku, memandikannya, mencebokinya dan semuanya. Hampir semua tugasku dia bisa melakukannya bahkan dengan lebih baik dan dengan begitu bahagianya.
Suatu ketika aku terbangun tengah malam. Dadaku sesak sekali, hatiku sangat gelisah. Kupandangi wajah anakku, aku memohon pada Allah agar aku dikaruniai waktu yang cukup untuk menjaganya, menemaninya, membimbingnya, aku ingin selalu menjaganya. Lalu kupandangi suamiku yang tidur disisiku yang lain. Lalu aku memohon pada Allah agar mengambilku dulu saja, jangan suamiku. Agar Allah mengkaruniai suamiku kesehatan, keselamatan dan umur yang panjang lagi bermanfaat. Kupandangi wajahnya, wajah yang tak pernah marah padaku, wajah yang selalu menggodaku. Kucium keningnya, pipinya dan tangannya… ya Allah…betapa beruntungnya aku….

Wednesday, June 06, 2018

My Amazing Pregnancy - 28 weeks -


31 May 2018..

My pregnancy is now 28 weeks-12 weeks ahead before the estimated delivery date yeayyy..
 I was feeling good, strong and healthy. I thought I can do fasting a month full.
I felt such a peculiar pain in my tummy today though, my baby kept  kicking and it made me worried. I decided to see the obgyn.
After doing little research, I finally decided to phone Klinik Sehati Gading Serpong, I was very excited to see dr. Ong Tjandra, MMPD, Sp.OG(K) Onk. From several reviews about obgyn in South Tangerang, he is the best and the most favorite and he is the owner of the clinic. So, I phoned his staff and asked for an appointment. Unfortunately, the appointment list is already full for 2 months ahead and I got the schedule to meet him on 24 July, oh my..... However, I was still eager to see him, so I booked for that day. As for today I decided to see dr. Handoyo.
I finished my work at 03.40 PM and the schedule will be at 05.00 PM. The  baby kept kicking and I started to feel hungry, so I decided to prepare some food and drink to break fasting. I arrived there too early and I got the second turn.It was still 05.30 PM when the first patient came out from the examination room. When the midwife called my name, I asked her to change my turn to be the fourth, because my husband was still on the way and couldn't arrive until 06.30.
at 06.35 the midwife called my name once again exactly after my husband and I finished our break-fasting.
dr. Handoyo is a friendly and nice man. He read my pregnancy history first and asked whether I have something to be asked or not. I only asked about my weight which has not significantly increased. He said, it's okay as long as the baby has normal weight, so he asked me to climb the bed. The charming midwife helped me to prepare myself for 4D USG.
The doctor positioned the USG instrument above my tummy and started seeking the position of my baby's head. He said the baby is upside-down and it is normal and that the baby is still actively moving. He measured the head circumferential and biparietal diameter which were according to him, normal. Then he tried to capture the face of my baby. It seems that the baby has a pointed nose and chubby cheeks so the midwife and the doctor congratulated us and said that the baby is more like the daddy. My husband protested the verdict and said that the baby is more like me. LOL
The doctor continued to check all the body parts of my baby, and give more explanation about each part in detail. I was glad and sooooo happy and he also assured us that the baby is clearly a boy.
It took almost 20 minutes before he asked me once again whether I have questions or not. I decided to ask whether it is still good or not to do fasting and he answered yes and suggested me to drink a lot to avoid dehydration. I continued to ask whether pocari sweat is good or not, because I can't drink mineral water 3 lt a day and he told me that it is okay but mineral water is better. The last question was about whether it is possible or not for me to go to my hometown which will be at least 12-hour journey and whether it is good or not to use corset buffer. He said okay but I need to stretch my legs at least in every 3 hours. Last, he suggested me to continue consuming my vitamin.


note : the USG and consultation cost Rp. 470.000,-


Well, I am relieved that my baby is okay, and seeing his face makes me far more happy..
the moment when the first time you see your baby's face inside your tummy is an absolute happiness






everything is okay and I am far more okay


 
honestly, I am still confused about this picture, but the doctor said it shows that the baby is a boy!

Friday, April 13, 2018

The Journey of Conceiving (Promil)

I am an ordinary human being, I am dreaming of becoming a mother of my own children. Whenever people asked me how many children I want to have, I always answered it constantly-FOUR. Long time before I was officially pronounced as a wife, I thought that conceiving is a piece of cake. But here the story comes...

Menantikan buah hati adalah pengalaman berharga yang dialami oleh hampir semua pasangan menikah. Sama seperti kebanyakan pasangan, aku dan suamiku juga mengharapkan momongan segera setelah kami menikah, segera setelah prosesi ijab qobul, dan rangkaian acara adat lainnya hingga ngunduh mantu di tempat mertua yang kami rencanakan adalah having our first baby! Aku yakin banyak pasangan menikah lainnya yang masih sedang berjuang, mungkin tulisan ini tidak banyak membantu tapi tak apalah... sharing sedikit saja...


27 April 2017
 27 April 2017 bukan hari libur, tapi hari kami berdua dan beberapa sahabat dekat kami meliburkan diri karena kami akan ijab qobul! Meski kami berdua adalah pasangan blasteran jawa ngapak dan jawa medok tapi keluarga kami tidak memakai hitung-hitungan hari baik seperti konon kebiasaan orang jawa pada umumnya. Hajatan di rumah orang tuaku dimulai dari sejak tanggal 25, meski kebanyakan saudara jauh sudah datang dari sejak tanggal 23. Tetangga, kenalan dan kerabat orang tuaku datang silih berganti sejak saat itu dari pagi sampai malam, bahkan beberapa tetangga dekat semalam suntuk dirumahku nonton wayang berjamaah.
Berhubung teman-temanku baru bisa datang dihari-H ijab qobulnya, selama beberapa hari sebelumnya aku hanya dibantu beberapa saudara untuk menjamu dan menemani tamu (dengan orang tuaku tentunya). Badan yang biasa dibawa kerja double-job dan naik motor Serpong-Warung Buncit ini rupanya tak terlalu perkasa untuk one-man show hajatan berhari-hari!
Hari akad nikah atas dua insan yang sudah planning menikah sejak 65 minggu sebelumnya ini pun tiba. pelaminan dipasang di kebun sebelah rumah orang tuaku. Menurut orang tuaku kami sengaja "ditandur" / ditanam di kebun agar cepat berbuah. hahahh..
Mahar karya my sister





Tentunya banyak yang menanyakan ikhwal sejarah singkat pemilihan mahar. Mahar ini dikonsep, dan dikreasikan oleh kakak kandungku sendiri. Ini adalah project coba-coba dengan bahan seadanya. Nominal yang aku minta adalah Rp. 2.000.000,- dan 4 dirham. Alasanya? cuma aku sendiri yang tau dan Allah pastinya. Baiklah.. angka 2 adalah simbol dari aku dan suamiku yang akan selalu berdua, angka 4 adalah doa agar kami dikaruniai 4 anak yang soleh&solehah, baik pekertinya dan mudah-mudahan good-looking semua. Anak! karena dari sebelum menikah mimpiku adalah menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaku kelak.Gelar S2 ku tak akan berarti apa-apa kalau anakku tak berakhlak baik. Aku selalu berfikir begitu.
Ucapan selamat dan doa-doa dari tamu yang hadir, dan semua orang yang kami kenal kami aminkan dengan semangat dan sangat senang. Setelah acara di rumah orang tuaku selesai, kami masih disibukan dengan persiapan acara ngunduh mantu dirumah suamiku. Mempersiapkan kendaraan, barang bawaan, makanan, dan peserta yang ikut tidaklah mudah. Banyak pertimbangan, banyak diskusi, dan pastinya banyak budget juga, mengingat jarak yang ditempuh tidak dekat, meski masih satu provinsi, Banjarnegara-Magelang. 
Kurang beruntung, si nona sensitif datang sehari setelah akad. Seperti bulan bulan biasanya, volume simerah selalu banyak sampai banjir sampai hari ke-. It means sampe ngunduh mantu. Meski sudah dilapisi, 2 underwear, dan 1 celana pendek, pake yang night dilapisi yang herbal tipis pula, simerah tetap memaksa keluar dan meninggalkan bercak noda beberapa titik di gaun anggunku yang akan kupaki dipelaminan nanti. Tidak terlalu terlihat tapi membuat dudukku tidak nyaman. Saudara-saudaraku rupanya tau kalau I am on my period and they congratulate me! kata mereka kalau nikah pas lagi merah bisa langsung isi. I was soooooo happpyyy to hear that...
----
Kami pulang ke Tangerang beberapa hari setelahnya, dan si nona sensitif pun sudah terlewati. Of course, kami langsung fokus ke tujuan mulia kami: Punya Anak! Aku mulai menghitung masa suburku. 3 minggu setelah kami sampai di Tangerang, aku ditugaskan dari kantorku untuk trial audit di Sukabumi. Whyyyyy... disaat lagi happy-happynya promil. dan itu berarti sehari setelah audit adalah bulan Puasa, and we don't even know how to manage to do 'it'. 
Qodarullah.. si nona sessitif datang lagi saat perjalan pulang ke Tangerang, tepat sehari sebelum Ramadhan. Sedih.... aku sampai minta maaf sama suami yang malah kesel karena aku terlalu down.
----
Bulan Ramadhan kami tetap menyediakan waktu untuk program kami. Aku pun masih setia menghitung masa subur dan kemungkinan konsepsi.Aku bahkan rajin sekali memberi asupan otakku dengan berbagai macam info seputar kehamilan, kesuburan, kemungkinan-kemungkinan penyebab belum hamil setelah menikah, yang akhirnya membuatku pusing sendiri. Ketakutan-ketakutanku yang selalu saja berlebihan malah justru membuat program kami berjalan tidak baik. I mean, aku jadi kurang menikmati karena memikirkan kemungkinan ini itu dan lainnya. Aku mulai menghindari junk food and other unhealthy food, aku rajin membeli buah untukku dan suamiku (suamiku cuma suka pisang, kelengkeng dan anggur). Menu makan siangku selalu bernuansa toge. Si nona sensitif rupanya datang terlambat, meski baru satu hari (menurut kalender masa suburku) aku tak sabar dan aku meminta tolong temanku untuk membelikanku testpack sekaligus 50.000 terserah merk apa saja (aku malu beli sendiri). Tapi Allah belum juga memberi kami hadiah itu. Aku pulang kampung saat lebaran dalam keaadaan merah lagi..
-----
Konsultasi ke RS Hermina Ciputat
Bulan Juli, si nona sesisitif kembali datang terlambat, kali ini 2 hari aku menahan diri untuk tak membuka satupun test pack yang sudah aku stok. Tapi tetap saja dia datang lagi.. Aku membujuk suamiku untuk menemaniku konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Dan dia setuju. Berhubung suamiku hanya punya waktu hari minggu, maka pilihan kami cuma RS. Hermina Ciputat, dengan dr. Rizky Ramadhany SpOG. Tanpa kepo-in profilenya sebelumnya kami kaget kalau dokternya ternyata laki-laki-muda-ganteng-eh. Kami pikir tadinya perempuan-yang kebayang mukanya Nia Ramadani.
Berbekal bacaan situs ibuhamil yang hampir setiap hari aku baca, aku memberanikan diri untuk to-the-point saja. I said that we are planning for having a baby tapi kita perlu make sure kalau kami baik-baik saja. Dokter ganteng ini pun menanyakan
“Sudah berapa lama menikah?”
We said “3 bulan”, dan dia senyum saja. Aku yang peka langsung sedikit malu and said, “Masih terlalu dini ya dok?”
And dokternya wise banget dengan bilang “It’s okay, malahan bagus kok, make sure kesehatan sedini mungkin, usia berapa?”
“Saya 26, suami saya 27”
“Wah masih muda banget..” lalu menjelaskan panjang lebar soal kesuburan dan promil. He asked more about my period history and my husband’s habit.
“Menstruasi lancar?”
“Lancar dok, sejauh ini biasanya siklusnya 27 hari, tapi semenjak menikah, 3 bulan ini mundur mundur 1-3 hari”
“Itu masih normal kok, apa pernah merasa sakit sekali saat mens?
“Sakit dok, tapi masih bisa ditahan, saya masih bisa kerja.mm… tapi volumenya banyak banget dok hari 1-3 biasanya saya ganti pembalut hampir 5 kali sehari,itu pun masih suka tembus”
“It’s okay kok nanti kita cek” wah.. apanyaaa???.. he changed to my husband, “Bapak ngopi atau ngerokok?” suami saya geleng sambil senyum “ga pernah dok” dokter gantengpun senyum.. “Bagus, apalagi alcohol, pasti ga mungkin donk..”
Konsultasi dilanjutkan dengan penjelasan dokter tentang kesuburan dan probability kami untuk punya anak. Menurut beliau usia kami masih tergolong muda, dan kami baru hitungan bulan menikah, ditambah riwayat menstruasiku yang normal dan suami sama sekali tidak pernah ada asupan yang memungkinkan untuk menghambat kesuburan maka kami masih sangat berpeluang besar untuk mendapat keturunan secara alami. Kami hanya perlu bersenang-senang dan rileks melewati masa-masa pernikahan sebelum punya momongan, anggap saja bulan madu terus, kata beliau. Adapun promil-promil yang dalam dunia medis itu biasanya untuk mereka yang sudah berusia diatas 30 atau sudah menikah lebih dari setahun, atau bertahun-tahun. Kemudian beliau menjelaskan tentang inseminasi dan bayi tabung yang biayanya belum mampu kami bayangkan. Tapi beliau menyarankan aku untuk di cek rahimnya saja, biar aku ga terlalu cemas dan ragu kalau aku ini baik-baik saja or there’s something wrong. Aku sangat setuju.
“USG nya dari dalam ya bu..” he said.
“ Transvaginal ya dok?” Was-was ga karuan dan mulai sedikit panic karena hari ini aku mens hari ke-3 dan sedang banyak banyaknya.
“Iya bu”
“Tapi saya lagi mens dok, lagi banyak-banyaknya”
“Justru bagus bu, sepertinya ibu sudah baca-baca ya kalau konsultasi promil paling bagus pas awal mens”
“Heheh.. iya dok, tapi kirain ga di USG transvaginal”
Ternyata yang memasukan alat pengecek rahim entah apa namanya itu susternya, dokter ganteng cuma pegang alat dari jauh sambil ngejelasin tampilan di monitor, it was weird, seumur-umur yang pernah liat my v ya cuma ibuku (waktu kecil) dan suamiku. Menurut beliau aku tergolong subur karena indung telurku yang besar-besar dan tampak di monitor ada sekitar 10 dari kanan dan kiri. I was so glad… menurut beliau kalau dalam kurun waktu 1 tahun aku belum juga hamil, beliau menyarankan untuk pengecekan kesuburan suami, tapi kalau tidak sabar kapanpun boleh. We thanked him (darah mens bersisa di alat USG), dan beliau mengingatkan kalau menikah dan berhubungan suami istri itu bukan semata-mata untuk punya keturunan, tapi juga untuk ibadah, jadi sebaiknya niatkan untuk beribadah dulu. Lega rasanya, now I know that I am good, healthy, and normal. Biaya konsultasi dan USG sekitar Rp. 490.000,-. Suami geli sepanjang jalan membayangkan ada 10 telur diperutku. He assumed that we’re going to be parents of 10 children!

Hasil USG Transvaginal


 -----
Masih dengan Dhuha, Doa Nabi Zakaria, Folavit dan Ever-E
Hari-hari setelahnya aku masih setia mencari berbagi informasi seputar kesuburan dan kehamilan. Aku pun masih rajin konsumsi folavit dan ever e, tapi masih suka malas minum susu promil. Suamiku masih aku cekoki buah-buahan dan kami berdua sepakat untuk tidak konsumsi mie instant at all. Dari berbagai blog yang aku baca aku tertarik dengan promil menggunakan madu penyubur. Dari testimomi di forum diskusi ibuhamil aku mendapat informasi kalau ada beberapa yang berhasil tetapi ada juga yang mencoba beberapa kali lalu give up. But I believe ini bagian dari ikhtiar. Dan jodoh sekaliii, ternyata teman sekantorku ada yang jual! It costs Rp.100.000,- sepasang! Tapi harus pesan dulu. Dan berhubung bulan Agustus ini masa suburku sudah lewat, aku berencana mulai meminum bulan depan, tapi dengan berbagai pertimbangan, karena sumber yang aku baca bilang kalau hari pertama mens itu hari pertama aku mengandung telur baru. So, aku maksa temanku untuk pesen maduku segera. And well, mulailah promil kami dengan madu, folavit, ever e, dan makanan sehat sejak akhir Agustus ini.
------
Dhuha, Doa Nabi Zakaria, Folavit, Ever-E, dan Madu Penyubur
Masa subur di bulan September kami manfaatkan sebaik mungkin (rencananya), tapi apalah daya suami sedang kurang fit, malah mesti ke dokter THT segala. Meski ga ada hubungannya dengan kesuburan, tapi tetap saja, sulit memaksakan kalau salah satu dari kami sedang kurang fit. Tapi namanya orang sudah terlanjur berharap, bulan ini si nona sensitive terlambat lagi. Di hari ke-4 aku ambil 1 stick test pack yang sudah aku stock. And…. Masih 1 garis…. Dan sorenya merah. Kecewa, sedih, apalagi dengar kabar si anu, si itu, si a, si b yang menikah setelah aku sudah positif hamil… huuuuu…. Rasanya seperti aku orang paling tidak beruntung sedunia….

Rp. 100.000,- Sepasang,
-------
Dhuha, Doa Nabi Zakaria, Folavit, Ever-E, Madu Penyubur, Madu Sono dan Kurma Muda Kuning
Bulan Oktober tiba, harapan baru tiba. Aku dan suami sudah rutin konsumsi madu penyubur dari sejak hari pertama mens. Aku masih mengenyangkan otakku dengan berbagai info seputar promil. Dari teman kantorku aku dapat kenalan sorang agen kurma muda. Tanpa piker panjang aku langsung pesan 1 kg kurma muda kuning. Disarankan untuk memakan 7 buah masing-masing suami isteri satu jam sebelum berhubungan, tapi suamiku malah keenakan makan kurma dan habis 15 buah sekaligus! Tapi lagi-lagi.. kali ini aku yang jatuh sakit. Padahal momentnya bagus. Aku sedang kami berdua sedang libur mengajar saat masa subur, jadi aktifitas malam untuk promil bisa dimaksimalkan.. Tapi apalah daya, aku mesti konsumsi beberapa obat dari dokter. Telfon dari orang tua, mertua, kakak ipar, keponakan menjadi seperti terror buatku. Meskipun mereka cuma menanyakan kabar. Tetap saja aku sedih… (di bulan ini suami dapat madu sono dari Jawa Timur, rasanya enak, dan katanya bagus buat tubuh)
------
Dhuha, Doa Nabi Zakaria, Folavit, Ever-E, Madu Penyubur, Madu Sono dan Surah Maryam

Akhir bulan Oktober aku direkomendasikan teman sesame promil-ku untuk follow IG dr. Bawono Suryo, katanya motivasi untuk promilnya bagus. Dan benar saja, posting-postingnya selalu mengngatkan kita para pejuang promil untuk menyerahkan semua pada Allah, sambil ikhtiar tentunya. Dan yang paling aku ingat adalah postingan-postingan beliau yang selalu mengingatkan keajaiban shalat dhuha, membaca quran dan surat Maryam. Aku yang sudah menghafalkan doa nabi Zakaria, dan doa-doa memohon zuriat lainnya sejak menikah kini mulai menambah amalan dengan rajin shalat dhuha, membaca sirat Maryam dan doa sebanyak-banyaknya.. Perasaan tenang mulai membawaku untuk berserah atas ambisiku. Mungkin kami masih harus belajar untuk menjadi orang tua yang baik dulu. Untuk refreshing suamiku mengajaku pulang kampung ke rumahnya di awal bulan November. Aku semangat sekali menyiapkan oleh-oleh untuk kakak-kakak iparku, mertuaku dan keponakan-keponakanku sampai kami belanja banyaaaak sekali….

-----
Dhuha, Doa Nabi Zakaria, Folavit, Ever-E, Madu Penyubur, Madu Sono, Surah Maryam, Ester C, CNI-Sun-Chorella, dan Tahajud
Pulang kampung kami berjalan dengan baik, semua senang dengan oleh-oleh dari kami, yang paling utama dengan kedatangan kami, karena keponakan-keponakan kami begitu lengket dengan suamiku. Sampai tiba saatnya kami berpamitan, kakak-kakak iparku yang semuanya cewek menanyakan perihal kehamilan. Mereka mengira aku memakai KB karena masih sibuk di kantor, mengajar dan menyelesaikan thesis. I told them about our effort. Kemudian mereka malah menenangkanku and said it’s okay, baru juga beberapa bulan. Tapi mereka mengingatkanku untuk melarang suamiku makan pare-padahal setahuku suamiku jarang sekali mau pare, dan membekaliku abon ayam, dan mewanti-wanti untuk tidak terlalu capek.
Sepulang dari kampung, agen kurma muda menawariku kurma muda yang merah, menurutnya ini lebih manjur. Aku iyakan saja, aku pesan 1 kg, dengan harga sama dengan dengan kurma muda kuning Rp. 250.000,- (aku meminta untuk dikirim satu minggu mendatang mengingat jadwal mensku masih beberapa hari), temanku pun masih menawariku madu penyubur, dan aku juga mengiyakannya, aku pesan 2 pasang sekaligus. Aku masih menyetok folavit dan ever-e. Dan qodarullah, suamiku tiba-tiba ditawari produk dari CNI untuk promil dan ester-C, yang diiyakan saja oleh suamiku, harganya Rp. 350.000.-. Berhubung masa suburku sudah lewat, aku meminta suamiku untuk mulai meminum nanti saja setelah si merah dating. 13 November si merah pun datang. Kami mulai meminum madu penyubur sejak hari pertama, kemudian setelah si merah lewat, aku meminta untuk menunda beberapa hari sampai aku benar-benar subur, selain itu, setelah aku amati, rupanya selama ini si jantan lebih kental dan banyak ketika si merah baru lewat karena diliburkan kurang lebih 9 hari. Jadi aku meminta untuk menunda sampi kira-kira hari ke-14. Awalnya suami keberatan, tapi aku jelaskan alasanku dan dia setuju. Sejak hari ke-12 (dihitung dari hari pertama mens) aku mengagendakan untuk mulai makan kurma muda merah yang Alhamdulillah datang tepat waktu (tidak terlalu cepat karena umurnya cuma seminggu), aku berencana untuk makan 7 buah masing masing sesuai petunjuk, tapi rasanya yang… Allohu akbar… sepat sekali, aku cuma kuat makan 3 buah dan suamiku 5 buah, itupun dengan perjuangan menahan enek yang luar biasa. Supplemen dari CNI pun mulai kami konsumsi 10 butir setiap malam, juga satu butir ester C, 1 butir folavit, dan 1 butir ever E (perut kembung sebelum berhubungan, LOL!), shalat dhuha, tahajud, surah Maryam, doa nabi Zakaria, dan doa doa zuriat lainnya tetap kami amalkan dan kami panjatkan

Sub Chorella 10 butir masing2 aku dan suami, ester-c dan ever E 1 butir masing2, dan folavit 1 butir aku tok.
.

-----
Kun Fayakun

Awal Desember, agenda audit internal dan beberapa pekerjaan yang tertunda sudah harus menjadi fokus. Belum lagi persiapan materi mengajar yang hanya tinggal beberapa minggu lagi sebelum final test. Tanpa terasa kesibukanku sedikit mengalihkanku. Ditambal lagi suami yang ndilalah mesti ke THT lagi, dan aku mesti minum beberapa obat karena dengan ceroboh tertusuk duri ikan sampai bernanah dan bengkak. Audit mulai berjalan dan ternyata mensku sudah terlambat 5 hari. Excited, tapi was-was, takut kecewa, aku memutuskan untuk menunda test (test bulanan pakai stock test pack!), aku juga mengingatkan suamiku untuk jangan dulu bersenang-senang..ha!!
Tanggal 17 Desember 2017, tepat satu minggu keterlambatanku kalau dihitung siklus normal 28 hari. seperti biasa aku terbangun malam hari, mungkin sekitar jam 2 malam pikirku. Aku berniat mengambil wudhu untuk tahajud ketika kebimbangan mulai menguasaiku lagi. Haruskah aku test sekarang? Ah takut kecewa. Tapi ini sudah 7 hari terlambat. Aku mengecek aplikasi Flo di HP ku. Aplikasi yang setia menemaniku memantau perkiraan haid, dan masa suburku. Kurang lebih 1 jam aku hanya terbaring disebelah suamiku yang mendengkur lelap. Masih dengan kebimbangan aku putuskan untuk bangun dan memasrahkan semuanya pada-Nya. Aku panjatkan rangkaian doa memohon zuriat lagi. Aku ambil satu dari beberapa stick stock test pack-ku. Wadah penampung sudah tersedia dikamar mandi, saking rutinya aku melakukan ini. Sudah 6 bulan menikah, jadi mungkin sudah sekitar 5 kali aku lakukan ini. Kutampung air seniku di wadah, karena sudah hafal cara pemakaiannya, langsung saja aku buka kemasannya dan aku celupkan sticknya. Detak jantungku mulai bergemuruh tak karuan. Dan tanpa menunggu lama, dua garis merah terang, jelas, dan menyenangkan itu muncul begitu saja. Aku langsung menaruhnya ditempat kering, membersihkan diri dan membersihkan wadah. Rencana wudhu sekonyong-konyong tergantikan dengan ide membangunkan suamiku. Sekali dua kali sentuh suamiku masih saja mendengkur. Aku goyang badannya dengan keras sampai dia terbangun. Masih mengantuk, aku sodorkan stick itu ke depan matanya. 

Masih tersimpan manis dan suka aku liatin biar inget moment indah liat ini pertama kali
“Apa itu?” tanyanya malas
“Liat mas” kataku dengan antusiasme berlebihan
“Itu artinya apa?” tanyanya masih mengantuk
“positif maass”
“Alhamdulillah” katanya tersenyum, lalu kembali tidur.
Sedikit kesal sungguh tak berarti apa-apa bagiku saat itu, karena aku sungguh sangat bahagia. Penuh semagat aku mengambil air wudhu. Syukur yang begitu panjang aku lantunkan selepas shalat. Aku tak bisa lagi memejamkan mata waktu itu. Rasanya dunia ini begitu indah. Rasanya Allah memang sayaaang sekali padaku. Kufoto test pack-ku, ku kirimkan ke karibku sesame promil. Karena tak ada respon darinya, aku kirimkan pula ke kakak-ku.
Benar, keturunan adalah hak mutlak Allah, ketika Ia berkehendak maka dengan mudah Ia akan menjadikan sperma dan ovum menjadi zigot dan kemudian menjadi embrio. Sungguh betapa ajaib proses itu. Sungguh hanya Allah yang mampu.
Adzan subuh berkumandang, aku membangunkan suamiku. Kali ini suamiku sudah sabar sepenuhnya.
“Jadi bener kamu hamil dik?” Tanya nya cerah. Kini ia yang senyum-senyum sendiri bahagia, membayangkan dirinya menjadi seorang ayah.
Alhamdulillah…


 

Monday, April 09, 2018

My Amazing Pregnancy-2

Now, the baby's age comes to 21 weeks. It means that I am reaching the middle of the second trimester as well as of my pregnancy. The terror of nausea has been passed smoothly. I mean, I didn't face any trouble causes something to the baby, except the fact that, there is still no weight gain. I was 56 kgs before the the stick told me that I carry a baby. 55 kgs in the second month, 54 in third to forth months. The previous doctor was almost mad and assumed that the cause of this weight decrease was my laziness to pick any food for my baby. She said that I shouldn't be selfish to my baby.

Some of my friends also told me that I should eat more than before and I should learn to give my baby what it needs.I desperately told them that I've been trying to eat more than before and that I never touch junk food or any other unhealthy food ever since I was told to be pregnant. But to my surprise they seemed already believed that I am a lazy mommy-to-be who doesn't try enough to overcome the nausea and doesn't care with my baby's growth. Unfortunately, the doctor and my hubby sometimes think so.

On a not-quite-busy Friday I managed to to get permission to go home earlier from my office so that I can see the doctor (other doctor) accompanied by my husband who has taken a leave from his office . I told my boss and he, without any hesitation granted me his signature.

The doctor started to put his focus on monitor. He said that the head of the baby is now positioned in the bottom, the hands and feet are normal, the heart is normal as well as every other parts of body. I asked him the weight and length, but he told me to be patient because he is currently analyzing something. My eyes were fixed on his expression, my heart seriously beat faster than ever. No.. I hope there is no something bad happens to my baby..no..

A wide smile appears on the doctor's face.. "bird..", surprised, only one word came out from my mouth "a boy?".."yes.." said the doctor happily, "it's already clear". Alhamdulillah... I never think of a certain sex, I only wish that my baby is normal, physically, psychologically. Oh well, to be honest, when I am with my nephews I think that it will be cool if I have one, but, whenever I go to baby store, oh my god.. baby dresses are so cuteeee.... It was different with my husband. Once I asked his wish, he said that it doesn't matter whether it is a boy or girl, but he frankly expect a boy. We were out of the room and wait for the midwife's calling. My husband's face was weird. He smiled happily, it was not a smile, I think it was more like giggle. Giggling, he covered his face with my jacket. He was so happy to tell his sister, so we went to his sister's house. My sister in law and her husband were so happy as well, but they were very honest to say that actually they wished a girl, and our nephews also wished a girl. hahha..


Whether a girl or a boy I hope he/she will be the light of our path to Jannah.. ammiiinnn...